Sabtu, 19 April 2014

Love Has Come!!! part 4

Sheryl tengah duduk-duduk gelisah didepan cermin yang mematut dirinya. Ia memperhatikan penampilannya malam ini, dengan dress putih selutut dan wedges hijau tosca yang senada dengan bandana dan tas kecil yang mengaitkan sebuah tali dibahu kanannya.

Seorang wanita paruh baya menghampiri Sheryl. Sherylpun langsung menoleh ke arah sang Bunda.

"Anak Bunda sudah cantik kok" Ujar Sang Bunda tersenyum sambil membelai rambut Sheryl dengan lembut.

"Sheryl belum siap bund.." Lirihnya menundukkan kepala.

"Rileks saja sayang.. Supaya kamu terbiasa dengannya"

"Yuk kebawah, Ayah udah nunggu kamu"Lanjutnya seraya memegang kedua bahu Sheryl agar cepat berdiri.

- - - - -

Keluarga Sheryl telah sampai ditempat tujuan, tepatnya disebuah restoran. Mereka masuk dan mencari sesuatu, tepatnya sebuah keluarga yang sudah terlebih dahulu datang dan menunggu mereka.

Setelah menemukannya, keluarga Hendrapun menghampiri, bersalaman dengan keempat orang dihadapan mereka dan dipersilahkan duduk.

Keempat orang itu, tepatnya 2 orang lelaki, yang satu lelaki tua yang seumuran dengan Pak Hendra dan lelaki muda yang mungkin berumur 19 tahunan, dan 2 orang wanita, paruh baya dan gadis mungil yang berkisaran berumur 17tahunan.

Pemuda itu atau tepatnya Valent, Valentino Sandrianda Moeraxa, hanya memandang calon istrinya sambil tersenyum malu-malu.

"Sheryl, Valent, Arora.. Sebaiknya kalian cari tempat duduk lain. Kami para orang tua ingin membicarakan sesuatu" Ujar Pak Andrian, Ayah Valent.

"Bund.."

"Gak apa-apa kok sayang" ujar Mayang "Valent, jagain Sheryl yah" Pesannya lagi.

"Iya tante.."

"Pah, Rora duluan boleh. Rora mau ambil tes labnya, Dokter Ryan udah ngehubungin terus tadi" Bisik Arora pada Ayahnya.

"Iya, kamu boleh pergi" balas Andrian.

"Iya.. "

"Om, Tante, Kak Sheryl. Rora duluan yah. Ada urusan mendadak, Rora Pamit"

"Loh, mau kemana?" Tanya Mayang.

"Rora mau ke Rumah sakit dulu, check up"

"Bohong tuh, diakan mau pacaran sama dokter Ryan itu" Ujar Valent yang dibalas dengan sebuah cubitan keras mendarat dilengan kanannya oleh Arora.

"Auww.. Sakit dek." Rintihnya. Kedua orang tua pun tertawa geli melihat tingkah mereka.

Rora menatap tajam sang kakak dan menatap kembali kepada para orang tua "Rora duluan," Ujar Arora sebelum pergi dan berlalu dari hadapan kedua keluarga itu.

"Yasudah, kalian boleh cari tempat duduk lain, tapi jangan jauh-jauh yah" Ujar Hendra.

- - - - -

Sheryl dan Valent sudah menemukan tempat duduk, tepatnya meja makan yang tepat untuk mereka berdua.

Valent menatap gadisnya kembali diseberang meja yang memisahkan mereka, dengan senyuman.

"Kamu, mau makan apa?" Tanya Valent Sambil membuka buku menu.

"Emm.. Terserah deh.." Balasnya lesu.

"Kamu sakit?"Tanya Valent yang memperhatikan kelesuan dalam wajah gadisnya dengan nada khawatir.

"Eh? Engg.. Enggak kok"

"Kalau sakit bilang yah. Kita bisa tunda makan malam ini" Ujar Valent tetap khawatir.

"Tidak! Aku tidak apa-apa.. Sungguh!" Ujar Sheryl meyakinkan. Dalam hatinya, ia merutuki dirinya yang berlaku manis terhadap pemuda dihadapannya itu.

Valentpun telah selesai memesan makanan.

Sheryl menatap Valent ragu.

"Kenapa kamu mau dijodohkan seperti ini? Aku yakin kau tidak separah yang aku pikir, sampai tak ada satupun gadis yang melirikmu" Ujar Sheryl To The Point.

Valent yang mendengar penuturan itupun menoleh kesumber suara dan tersenyum menatap Sheryl. "Separah apa aku dimatamu?" Ujar Valent sedikit menggoda dan menatap Sheryl dengan senyum dibibir manisnya.

"Setidaknya, kamu tampan dan kaya. Pasti ada bukan, gadis yang menyukaimu. Tidak dengan perjodohan ini" Ujar Sheryl mengalihkan pandangannya pada lilin dihadapannya.

"Tapi, aku hanya menginginkanmu. Dan, Aku yang menghendaki perjodohan ini. Aku memilihmu!" Tegas Valent.

Sheryl yang mendengar penuturan itu, kembali mendongakkan wajahnya menatap kaget Valent ." Apa? Kenapa kamu melakukan itu? Apa kau tak berfikir jika aku sudah memiliki kekasih, dan bersabar mununggu kakakku pulang agar membayar hutang keluargaku kepada keluargamu" Sheryl kesal.

"Berusahalah menerimaku, aku yakin, kamu akan bahagia jika denganku" Ujar Valent mengalihkan pandangannya yang tak tega melihat mata sang gadis yang sudah berkaca-kaca.

"Kau pikir sebuah vas yang sudah terisi penuh oleh bunga akan bisa memasukkan bunga lain yang menyesakkan?. Tidak Valent, hati ini sudah milik orang lain" Ujar Sheryl menunjuk dadanya.

"Keluarkan bunga itu, dan ganti denganku.."Ujar Valent dengan santainya.

"Ck! Aku tidak akan melakukannya"

- - - - -

Sheryl dan Valent telah kembali ke meja makan keluarga mereka yang menyuruh mereka bergabung kembali.

"Jadi kapan, Sheryl akan pindah kerumah Valent?"Tanya Melina, Ibunda Valent.

Seketika Sheryl membulatkan matanya. Kaget!

"ohok.." Sheryl yang sedang meminum sirupnya terbatuk-batuk mendengar ucapan melina. "Mah. Pah?"



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: