Rabu, 15 Januari 2014

TIDAK ADA WAKTU BUAT TAKUT

Pergi kerumah sakit adalah hal yang membosankan bagiku. Selain harus melihat orang-orang yang sakit, aku juga benci dengan bau obat yang menyengat. Bulu hidungku sering keluar karenanya. Dan hari ini, aku dipaksa ikut Ibu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk tetangga yang baru kecelakaan tadi pagi. Aku terpaksa mengangguk daripada harus dirumah sendirian. Ah, hari libur yang menjengkelkan.

Seperti anak-anak lain ketika pergi bersama ibunya, aku memegangi tangan kiri Ibu sesampainya di Rumah sakit agar selalu digandeng. Sementara tangan kanan ibu membawa kantong plastik berisi jeruk. Aroma khas obat-obatan mulai mencolok hidungku ketika aku dan Ibu memasuki lorongnya. Beberapa wanita muda berpakaian putih dan memakai rok mini lalu lalang diantara lorong berkeramik putih ini. Semuanya sama, kompak. Membawa map hijau di tangan kirinya.

Bangsal Melati, itulah tulisan di depan ruangan yang sekarang kumasuki. Bu Sumi, tetangga yang kumaksud itu sekarang sedang tertidur pulas. Pipi kanannya diperban, tangannya berselang infus. Ada luka-luka lecet di lengannya. Ibu mulai berbincang dengan Pak Bari, istri Bu Sumi. Laki-laki itu mulai menceritakan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa istrinya. Dan bisa ditebak, pasti ujung-ujungnya akan menggosip tetangga yang lain. Tapi kuakui, Pak Bari orangnya kalem. Walaupun Ibu memancingnya untuk membicarakan aib orang, Pak Bari meresponnya dengan senyuman saja. Kadang aku berpikir kenapa laki-laki gagah ini mau menikah dengan Bu Sumi yang cerewet dan suka menggunjing orang, gendut dan jelek pula.


Aku memilih menunggu di luar ruangan, sebab memang aku tak suka mendengar orang menggosip. Lagipula aku juga tak suka tempat ini. Seandainya Bapak masih hidup, mungkin aku tak perlu ikut Ibu kesini. Aku akan berada dirumah ditemani bapak menonton TV, atau memancing di sungai belakang rumah.

“Hei...” sebuah suara tiba-tiba hadir di sebelahku. Seorang anak perempuan yang kurasa masih seumuranku.

“Hei...” jawabku dengan senyum. Tanpa meminta ijin, dia langsung duduk di sebelahku.

“Jenguk siapa?” tanyanya.

“Tetangga. Kamu?”

“Owh, baru pertama kesini?” tanyanya lagi tanpa menjawab pertanyaanku.

“Iya, kok tau?” aku mengerutkan dahi.

“Aku kan penghuni sini. Setiap orang yang sering kesini aku pasti tahu. Dan mukamu baru kulihat hari ini,” jelasnya.

“Memangnya sudah berapa lama kamu disini?”

“Udah lama, aku nggak ngitung. Kata mama kalau dihitung akan berasa lama.”

“Owh, terus kamu sakit apa?” sidikku.

“Udah nggak sakit, tinggal nunggu aja kok.”

“Nunggu? Apa yang kamu tunggu?” tanyaku makin antusias.

“Kematian,” jawabnya polos dengan senyuman yang lugu.

Aku menghela nafas. Sedikit kaget dengan perkataannya. Kulihat wajahnya datar-datar saja ketika berkata kematian.

“Wah, kok bisa gitu?” tanyaku lagi karena penasaran.

“Ya memang begitu kata dokter. Kenapa? Kamu takut mati? Kata mama, aku nggak punya waktu buat takut. Aku hanya punya waktu buat berdo’a sama Tuhan.”

“Mmm... memangnya kamu sakit apa? Eh, maksudnya kamu disini karena apa?”

Neuroblastoma. Kanker Saraf.”

“Apa itu?” tanyaku polos.

“Tanya aja sama dokter. Aku juga berkata seperti itu kata dokter. Katanya tulang sumsum-ku udah terserang kanker saraf,” ungkapnya.

“Apakah itu yang membuatmu berkata menunggu kematian?”

“Begitulah. Kemoterapi yang aku jalani hanya untuk mengulur waktu matiku,” terangnya dengan menunduk. Tampak warna pucat di sekeliling matanya. “Oh ya, menurutmu hidup itu apa sih?” tanyanya seketika berusaha ceria.

“Aku? Mmm... arti hidup itu berjuang. Itu kata buku yang pernah aku baca,” jawabku sekenanya.

"Tapi aku heran, banyak orang yang menyia-nyiakan hidupnya. Mabuk-mabukan, ugal-ugalan di jalanan, bunuh diri, padahal disini banyak orang sakit yang berjuang demi hidupnya."

 "Kamu harus bersyukur. Kata Ibu, kalau kita sakit itu artinya Tuhan masih sayang sama kita. Tuhan memberikan cobaan agar menjadi orang yang tangguh,” ucapku menyemangati.

"Berarti Tuhan tidak sayang dong sama teman-temanku yang tidak sakit. Teman-teman bisa bermain, bisa sekolah tapi tidak disayang Tuhan? Aku ingin disayang Tuhan tapi juga ingin sehat. Supaya bisa bermain dan sekolah lagi," ucapnya polos.

"Tuhan pasti punya rencana indah buat kamu. Seperti yang Ibumu, eh mama kamu bilang, kamu masih punya waktu buat berdo’a. Mintalah sama Tuhan supaya kamu cepat sembuh dan bisa sekolah lagi, bisa bermain lagi,” kataku sambil tersenyum.

“Kamu mau menemaniku bermain?” tanyanya.

Aku mengangguk, "Oh ya, ibu... eh mama. Mama sama papa kamu sekarang dimana?" tanyaku.

"Papa udah meninggal, kanker juga. Mama masih mencari pinjaman uang untuk bayar biaya perawatanku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kata dokter, penyakit ini berasal dari papa.”

“Ayo kita maen. Aku bisa sulap lho,” kataku menghibur. Mengusir ketegangan diantara kami.

“Oh ya? Sulap apa?” dia tersenyum.

“Membuat orang tersenyum, ha..ha... ” jawabku sambil tertawa.

Dia mencubitku. Kulihat sinar keceriaan tampak dari wajah pucatnya. Tubuhnya yang kurus tak menghalanginya untuk kembali menyuguhkan senyum untukku.

“Paijo...” aku mengulurkan tangan.

“Maha,” dia menjabat tanganku.

“Nama yang bagus. Umur kamu berapa?” tanyaku.

“Sebulan lagi aku tepat 12 tahun. Kamu?”

“Aku lebih tua darimu...”

Lalu aku dan Maha terlibat obrolan tentang masa kanak-kanaknya yang hilang karena penyakit yang dideritanya. Aku beruntung, aku beruntung, hatiku berkata lirih.

Ibu sudah keluar dari ruang Bangsal Melati ketika Maha pamit masuk dengan alasan pusing. Entah itu benar atau tidak yang jelas kulihat senyum terakhirnya seakan menahan sakit.

“Ayo pulang...” ajak Ibu.

Aku bergegas mengikuti Ibu dari belakang sambil kuraih tangannya untuk digandeng.

“Bu, aku janji nggak akan nangis lagi karena ditinggal Bapak,” ungkapku.

Ibu menghentikan langkahnya, memandang ke arahku. “Memangnya tadi kamu ngapain kok tiba-tiba bicara seperti itu?” tanya Ibu.

“Nggak apa-apa bu. Kita naik apa pulangnya?”

“Kita naik becak saja,” jawab Ibu kembali melanjutkan langkahnya.

“Lewat bioskop ya, bu? Aku mau liat poster Barry Prima,” pintaku.

“Iya...”

Aku girang dalam hati. Sebentar lagi aku bisa melihat gambar Barry Prima terpampang di depan gedung bioskop.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: