Lautan kata ini cuma membisu, sayang. Ia tak tumpahkan isinya untuk kekosongan hatimu. Ia tak sentuhkan lidahnya ke jemari kakimu yang kotor oleh pasir. Tak pula mengajak bibirmu berpagut dengan dinginnya hawa yang serba sia-sia.
Tentu saja ia cuma membisu. Sebab kau tak dengar panggilannya.
Dengarlah buih-buih pucat menyebut namamu. Berbisik sedemikian halus, mengajakmu turun dari singgasana yang tentram. Tapi hingga sedemikian jauh perjalanan kita, kau hanya mendengar gelegar petir di langit.
Dan kau pun tak kan tahu, betapa dalam lautan ini. Tidakkah kau rasa kesedihan didalamnya? Menyelamlah, sayang. Hingga ke palung-palung terkelam. Terlupakan.
Lihatlah, sayang. Lautan ini begitu luas. Akan selalu ada tempat untuk kegelisahan kita. Sejarah itu memang terasa sentimentil dan penuh dengan hal-hal yang romantis.
