Kamis, 05 Desember 2013

Angel of death

Tuhan mungkin sedang bercanda ketika menciptakan aku dan Hagrael. Dari ratusan malaikat mautnya, hanya kami berdua yang begitu mirip satu dengan lainnya. Mulanya tak sedikitpun yang kuketahui tentangnya, sampai suatu saat di pertemuan akbar tahunan para malaikat maut, Azriel Sang Pemimpin mengumumkan bahwa malaikat maut dengan prestasi ketepatan kerja hanyalah aku dan Hagrael. Karena hadiah cuti kerja satu dekade hanya untuk satu malaikat, tak ada yang memenangkannya tahun itu. Sejak saat itu, persaingan kami terus membara. Dan sejak saat itu pula, belum ada malaikat yang memenangkan hadiah.
Demi mengalahkan Hagrael, aku meminta Daftar Nyawa tambahan dan dikabulkan. Semua nama di daftar itu kucabut nyawanya dengan tepat, cara kematian sesuai yang tertulis, dan tak satu pun yang meleset. Aku cukup percaya diri ketika mengikuti pertemuan akbar tahun berikutnya, namun lagi-lagi Hagrael menjegalku dengan prestasi kerja yang persis sama. Pun tahun-tahun berikutnya. Belakangan Azriel memberitahuku bahwa Hagrael juga meminta Daftar Nyawa tambahan pula, sama denganku. Itulah sebabnya nilai kami selalu sama.
“Belum menyerah, eh, Banael?” seringai Hagrael menghiasi wajah tampannya ketika kami berpapasan di pintu keluar. “Boleh juga semangatmu.”
“Terima kasih untuk pujian palsumu. Simpan saja kembaliannya,” jawabku dengan senyum manis di bibir.
Hagrael menatapku lama. Kemudian berujar, “Sampai jumpa, Betina. Jaga diri baik-baik.”
“Kau juga, Jantan.” Aku tak sungguh-sungguh. Siapa yang butuh dia baik-baik saja? Cih. Jelas bukan aku.
Aku memasukkan Daftar Nyawa baruku ke punggung tangan kiriku; kali ini panjangnya dua kali lipat tahun lalu, sesuai permintaanku pada Azriel. Daftar Nyawa itu kami terima berupa gumpalan cahaya kecil yang merasuk ke dalam kulit, dan kemudian muncul di telapak tangan sesuai urutan kematian, berpendar seperti neon mini. Nama itu takkan berganti sampai yang bersangkutan berhasil kami cabut nyawanya.
Sadar kalau Hagrael pasti juga meminta hal yang sama, daftar tambahan, aku masuk kembali ke dalam aula dan menghampiri Azriel yang berdiri sendirian di depan Jendela Manusia. Semua malaikat bawahannya telah membubarkan diri dan kembali ke Daftar Nyawa masing-masing.
“Nah, Banael, kau membuatku bertanya-tanya mengapa kau kembali lagi padaku,” sapa Azriel dengan senyumnya yang menenangkan. Sayapnya yang putih berkilauan terlipat rapi di punggungnya.
“Aku ingin poin tambahan lagi.”
Azriel tertawa kecil. “Tidakkah Daftar Nyawamu tahun ini cukup panjang?”
“Mungkin. Tapi aku ingin tantangan lebih.”
“Untuk mengalahkan Hagrael?”
Tanpa menutupi niatku sedikit pun, aku memberi Azriel jawaban absolut, “Ya.”
Seperti sengaja membuatku punya kesempatan melihat ke dalam Jendela Manusia, Azriel terdiam. Jendela itu sebenarnya hanya lubang di dinding, tapi hanya dengan satu sentuhan dari Azriel, jendela itu mampu menampilkan kehidupan di Bumi, persis film di dunia manusia. Aku mendapat kehormatan bersama Azriel berbagi pemandangan seorang manusia betina yang sedang makan dengan seorang manusia jantan. Ketika partnernya muntah darah dan menggelepar di lantai, manusia betina itu tertawa dan pergi begitu saja.
“Kau lihat manusia ini? Aku telah mengamatinya beberapa tahun terakhir ini dan sepertinya tidak mampu berhenti melakukan berbagai dosa. Tuhan telah kecewa padanya dan memutuskan untuk mencabut nyawanya,” papar Azriel.
“Lalu? Apa sulitnya?”
“Dia bersekutu dengan setan.”
Oh. Pantas Azriel terus menerus mengamatinya. Persekutuan dengan setan bisa membuat manusia mengelabui malaikat maut yang mendekatinya, karena setan mengisiki telinganya. Berulang dan berulang, seorang manusia bisa memperpanjang umurnya karena ini, dan bahkan mampu menipu mata manusia lainnya dengan penampilan yang muda abadi.
“Manusia betina ini sudah mengantongi tiket ke neraka,” ucapku pelan.
Azriel menatapku, “Ya, tapi bagaimana menjebloskan dia ke sana? Takkan ada malaikat yang bisa mendekatinya tanpa diketahui setan pendampingnya.”
Tak ada malaikat yang bisa mendekatinya.
Kalimat ini terngiang di kepalaku berulang-ulang, sampai akhirnya aku sadar kalau Azriel baru saja memberiku tugas istimewa. Pemimpinku ini menatapku penuh arti, dengan senyum tersungging. Tentu saja aku akan berhak meraih poin tambahan kalau berhasil melakukannya.
“Berikan dia padaku,” kataku, dengan kesadaran penuh aku mungkin takkan bisa kembali lagi.
Azriel mengangguk. Aku pergi meninggalkannya setelah ia memasukkan seutas cahaya di tangan kiriku. Daftar Nyawaku mendadak sirna, tergantikan satu nama saja: Adrianna Lowe. Hanya satu manusia dan dia bernilai lebih dari seluruh nama di Daftar Nyawaku; manusia berbahaya dengan prioritas utama untuk dibinasakan. Tak ada tanggal kematian, pun caranya. Artinya aku tak dibebani batas waktu dan protokol kejadian kematian.
Karena manusia ini bukan manusia biasa, maka aku akan mendekatinya dengan cara yang berbeda. Biasanya aku cukup menggerakkan mobil, meruntuhkan jembatan, atau meniup air bah, kali ini aku takkan bisa memakai kekuatan aktif malaikatku. Aku telah memutuskan untuk menjadi manusia.
Sayapku mengepak kencang mengantar tubuhku turun ke Bumi. Di rimbun pepohonan aku mendarat, terlindung dedaunan dan kelam malam. Perlahan kedua sayapku meranggas, lembar bulunya berkumpul menjadi satu onggokan di tanah. Aku menggunakan sisa kekuatanku untuk membuat pakaian dan sekantung uang manusia. Tak ada genangan air di sekitarku, tapi aku cukup yakin tampilanku menarik untuk ukuran manusia betina dewasa. Aku beranjak setelah berpakaian, melirik sekilas tumpukan bulu di tanah yang berangsur-angsur lenyap dari pandangan. Kalau perhitunganku tepat, sebentar lagi aku akan bertemu dengan targetku.
Dengan kaki telanjang aku menyusuri tepian hutan. Jalan setapak bertemu dengan jalanan berbatu kemudian berujung di jalan beraspal, membuatku lega. Telapak kakiku telah terluka dan berdarah sedari tadi. Aku benci menjadi manusia. Tapi setiap kali aku hendak mengeluh, seringai menyebalkan Hagrael muncul di benakku dan api di dadaku berkobar lagi. Tepat ketika jalanan berkelok, aku mendengar suara gerungan mesin dari belakang.
Nah! Aku mengitung sampai tiga, lalu menjatuhkan diri ke tengah jalan.
Suara roda berdecit dan mobil nyaris saja mengenai ujung hidungku. Untuk pertama kalinya aku melihat bayangan wajah baruku di bemper yang terbuat dari lempengan besi anti karat: rambut pirang berantakan, kulit coklat, dan mata keperakan–satu-satunya ciri kemalaikatanku yang masih tersisa di tubuh manusia baruku.
Sejurus kemudian suara pintu dibuka, langkah kaki, dan kemunculan manusia jantan berseragam yang sudah hendak membuka mulut untuk meneriakiku tapi lantas tertegun. Aku menatapnya dengan pandang memelas. Manusia jantan itu memasung matanya ke arahku, berdiri dengan mulut membuka dan menutup seperti ikan mas koki.
Suara pintu lain dibuka, disusul langkah kaki yang lebih ringan, dan muncullah dia di sisi lain mobil–Adrianna Lowe! Betina ini memesona di usianya yang tidak muda lagi–kulit putih cemerlang, rambut pirang ikal dan bibir semerah darah. Mata malaikatku melihat kecantikan yang tidak manusiawi darinya, dan mata manusianya balas melihatku tanpa berkedip.
Apakah penyamaranku ketahuan?
“Kau baik-baik saja?” tanya Adrianna, lalu tertangkap olehnya kedua telapak kakiku yang berdarah. “Kau terluka. Di mana rumahmu?”
Aku memasang tampang memelas. Dengan air mata menggenang kujawab pertanyaannya, “Aku dibuang orangtuaku …”
Ajaib. Manusia betina itu percaya. Ia memerintahkan manusia jantan bertubuh besar tadi untuk membopongku ke dalam mobil, membawaku, dan menjadikanku bagian dari rumahnya. Ia mengobati kakiku, memberiku makanan, pakaian dan tempat tinggal yang kesemuanya tak kubutuhkan. Aku tak suka pakaian manusia yang rumit dan berat, tak suka masakan manusia yang terlalu berbumbu dan cenderung membuang-buang makanan, dan aku tak suka tingkah laku manusia di rumah itu yang sama sekali tak ingat Tuhan. Setiap kali aku merasa penat menjadi manusia, kubayangkan wajah Hagrael. Mengingat sekarang aku begitu dekat dengan Adrianna, aku menguatkan diriku untuk bertahan dalam tubuh manusia.
Satu bulan tinggal di rumah Adrianna yang menyerupai kastil, aku mulai memahami pola pergerakan orang-orang di dalamnya. Adrianna tak menikah, tak punya anak, tapi ia memungut banyak gadis-gadis muda yang tinggal di satu kamar sangat besar, dan aku ditempatkan di sana juga. Para pelayannya kebanyakan sudah tua dan semuanya tak pernah tersenyum. Mereka yang masih muda adalah para pengawal dan sopir Adrianna. Mereka juga tinggal di rumah yang sama, dan tak satu pun yang percaya Tuhan itu benar-benar ada.
Aku menemukan satu ruangan mencurigakan yang pintu kayu besarnya selalu tertutup. Kami selalu melewatinya setiap akan pergi ke ruang makan. Setiap minggu orang-orang berdatangan ke rumah itu dan mengadakan pertemuan tertutup di dalamnya, lalu pergi lagi menjelang fajar. Satu per satu gadis-gadis muda yang ditempatkan satu ruangan denganku menghilang, dan aku yakin sangat erat kaitannya dengan ruangan misterius itu.
Satu hal lagi yang lebih penting: aku harus menemukan cara untuk mengakhiri hidup Adrianna. Mereka tak membiarkanku keluar rumah sama sekali, jadi aku harus mencari akal dan menggunakan apa yang ada. Racun, aku tak punya. Pisau, banyak di dapur, tapi tak ada kesempatan menyelinap ke sana. Dan terutama, tak mudah mendekati Adrianna ketika ia sedang sendiri saja. Hanya satu kali dalam sehari kami berkesempatan bertemu dengannya: makan malam.
“Kau cantik sekali, Bana,” bisik Adrianna ketika aku kebetulan duduk di dekatnya. “Kakimu masih sakit?”
Aku tersipu, lalu menggeleng sambil tersenyum malu. Dalam hati aku menahan tawa, betina ini mau saja tertipu penampilan gadis-polosku.
“Bagus sekali. Sudah saatnya,” Adrianna tersenyum puas, matanya berkilat-kilat.
“Untuk apa?”
“Melayaniku, Sayang.”
Aku tersenyum, mengamati Adrianna meneguk anggurnya dengan lirikan penuh arti. Lalu pandanganku tertumbuk pada seorang manusia jantan yang berdiri merapat dinding. Dia belum pernah kulihat sebelumnya. Rambut cokelatnya dipotong sangat pendek, hidung agak bengkok, dan tubuhnya tinggi tegap. Dia memelihara janggut dan brewok. Aromanya aneh. Satu detik ia membalas tatapanku, tahulah aku kalau ia bukan manusia.
Setan pendamping Adrianna?!
Makhluk ini menyeringai padaku. Aku mencengkeram garpu, bersiap-siap jika makhluk ini membongkar rahasiaku di depan semua orang. Hanya satu pintu keluar, tapi aku tak keberatan menghancurkan kaca jendela.
Adrianna mengelap bibirnya dengan serbet. Ia membungkuk sesaat setelah bangkit, berbisik di telingaku, “Bersiaplah. Kutunggu di Ruangan Rahasia.” Lalu bersama makhluk itu, betina incaranku meninggalkan ruangan.
Setelah diam-diam menyelipkan garpu di balik lipatan gaun, aku beranjak menuju ruangan itu, tempat misterius yang telah lama ingin kubongkar rahasianya. Adrianna telah berada di dalam, sendirian. Ia memberi isyarat padaku untuk mengunci pintu, dan kuikuti perintahnya. Tak ada tanda-tanda makhluk tadi sama sekali.
Ruangan itu besar, berlangit-langit sangat tinggi, dan di luar dugaan tak ada sesuatu pun di atas lantai hitamnya kecuali aku dan Adrianna. Dindingnya sewarna lantai, pun langit-langitnya yang digantungi kandil raksasa. Hanya ada satu lukisan besar di dinding, menampilkan Adrianna dengan benda serupa tanduk kambing di kepalanya …
Lampu mendadak mati dan aku terjebak di kegelapan, tepat di tengah-tengah ruangan. Lantai yang kupijak perlahan mengeluarkan sinar yang membentuk sebuah pentagram terbalik di dalam lingkaran. Aku terjebak.
“Gadis bodoh, apa yang kau cari? Apa kau pikir Azazil tidak tahu?”
Azazil! Lemas sudah tubuhku. Kalau betina ini budak Azazil, sang Iblis, maka tipis kemungkinan aku bisa menghabisinya. Adrianna tertawa kecil.
“Kau datang untuk apa, Hamba Tuhan? Mengembalikan imanku?”
Aku tidak menjawab, sementara Adrianna terus melempar pertanyaan. Perlahan kukumpulkan kekuatan, siaga untuk kulepas kapan pun aku perlukan.
“Aku penasaran,” Adrianna menunjuk ke arah belakangku dengan telunjuk lentiknya, “apakah kau bisa mengalahkannya.”
Makhluk tadi! Bagaimana ia bisa masuk tanpa kuketahui?!
Manusia jantan yang tadi kulihat di ruang makan melangkah ke sampingku. Temaram cahaya dari pentagram menyinari seringai bibirnya, membuatku bertanya-tanya di mana pernah kulihat seringai itu. Tangan kanan makhluk itu terangkat ke arahku.
Secepat kilat kulempar garpu ke arah Adrianna dengan dorongan kuat, lalu kusambut tangan itu. Suara berderak muncul di seberang ruangan. Cih, pikirku. Betina itu lolos, garpuku menancap ke tembok. Aku menghantam perut lawan jantanku, lalu melesat ke arah Adrianna yang telah berada di sisi lain ruangan. Adrianna mengelak, menjejakkan kaki ke tanah dan bagaikan menafikan gravitasi bumi, tubuh rampingnya melayang di udara. Sebelum sempat melakukan sesuatu, pelipisku dihantam sebuah tinju dan aku terpelanting ke lantai.
Bayangan hitam besar melewatiku dengan kecepatan tinggi, menuju dinding dan menjadikannya pijakan untuk tolakan, lalu melompat tinggi menuju Adrianna. Kurasa betina itu terkejut dengan serangan tiba-tiba makhluk yang tadinya anak buahnya, karena ia berteriak marah. Aku tidak mengerti dan tidak dapat melihat apa yang terjadi di atas karena kegelapan mutlak menyelimuti. Suara-suara pertempuran kudengar jelas tanpa bisa kulihat.
Sesosok tubuh terhempas ke lantai. Adrianna! Tubuhnya penuh darah bekas amukan makhluk jantan tadi, mengerang kesakitan. Tak tampak kesombongan yang biasanya menghiasai parasnya. Sesuatu bergerak di udara dengan cepat ke arah Adrianna, yang kukenali bentuknya sebagai pedang. Makhluk itu akan membunuh Adrianna, dan membuatku kehilangan poin!
Cepat aku melejit dan merebut pedang itu tepat sebelum mengenai Adrianna. Tanganku yang menggenggam pedang bergeming di udara, tepat di atas jantung Adrianna. Aku merasakan aura surgawi dari pedang itu, tapi tak sempat aku menduga lebih jauh.
“Kau … menyelamatkanku?” tanya Adrianna, tak percaya.
“Siapa bilang?” desisku pelan. Sekuat tenaga kutusukkan pedang itu, tapi makhluk jantan itu menerpaku sampai terguling di lantai, dan Adrianna dengan cepat bangkit.
Untuk beberapa saat kami bergumul di lantai, saling memukul, saling menghantam, saling menghindar. Hingga suatu saat dia berhasil mengunciku di bawah tubuhnya, dengan lantai pentagram di bawah tubuhku, dan temaram cahaya mencapai benda yang selama ini tidak terlihat olehku: sepasang mata keperakan. Mata malaikat. Dan aku mengenali sosok di balik tubuh manusia palsu itu.
“Hagrael?”
“Kau … kenapa ada di sini?”
Pertanyaan itu tak terjawab, pun aku tak bisa bicara lagi pada Hagrael, karena Adrianna telah menusukkan pedang tembus dari punggung ke dadanya. Pedang surgawi, tentu mematikan bagi makhluk fana, tapi juga fatal bagi malaikat kematian. Tubuh manusia Hagrael kehilangan hidup. Cahaya menyilaukan terpancar darinya sesaat sebelum lepas ke udara dalam bentuk Hagrael yang biasanya, dengan kedua sayap terpentang lebar. Cahaya itu membentuk senyum tulus sebelum tersedot ke atas dan hilang menembus langit-langit.
Hagrael telah kembali ke surga, tapi takkan pernah ia bersama-sama kami lagi, karena ia pulang ke sisi Tuhan. Tanpa sadar air mataku menetes. Betapa kami telah bersaing berabad lamanya, dan jatuh karena diperdaya sesuatu bernama hasrat. Sesuatu yang tak seharusnya dipelihara malaikat. Ini pertama kalinya aku merasakan kehilangan, dan penyesalan. Persaingan kami terasa sia-sia sekarang.
Telingaku mendengar suara kekehan Adrianna, dan sadar kalau pertempuran kami belumlah usai. Aku melompat bangkit dengan segenap kekuatan. Sayapku menyeruak muncul dari punggung dan tubuh manusiaku sirna, digantikan tubuh asliku: kulit seputih pualam dan rambut hitam.
“Malaikat Kematian, eh?” ejek Adrianna. “Kau yakin akan mudah mencabut nyawaku?”
Aku membalas ejekannya dengan sabetan pedang, yang ditahan betina itu dengan perisai tak kasat mata. Pupil matanya merah membara, memberiku informasi lain. Rupanya selama ini aku keliru, setan pendampingnya tidak menemani Adrianna dalam bentuk manusia, tapi justru merasukinya. Tapi kehilangan Hagrael membuatku buta dan tak peduli kalau aku tengah melawan Azazil, Sang Iblis sendiri.
Adrianna tidak melawanku dengan senjata yang secara fisik terlihat mata. Ia memadatkan udara, membentuknya menjadi berujung tajam, dan menyerang. Kalau saja aku masih dalam tubuh manusia, niscaya takkan bisa kudeteksi serangannya. Kami saling menebas, menghantam, dan memburu satu sama lain. Lantai, dinding dan langit-langit seolah satu bidang datar. Dari waktu ke waktu kudengar tawanya, mengejek seranganku yang tak pernah mengenainya.
Memutar otak, aku sampai pada kesimpulan bahwa Adrianna terlalu cepat bagiku. Tak mungkin mengejarnya, apalagi melukainya. Aku perlu bantuan. Tapi apa?
“Menghindar terus, anak buah Azriel. Di sini hanya ada aku, kau dan kandil di langit-langit itu. Mau minta tolong pada siapa?” Adrianna meledekku. Tawa senangnya meledak ketika akhirnya ia berhasil melukai kakiku.
Aku nyaris tersungkur. Kaki kananku nyeri karena tertusuk sesuatu yang tak terlihat, tapi juga tak bisa dicabut karena materinya terbuat dari udara. Aku memikirkan kalimat terakhir Adrianna dan sebuah ide muncul.
“Menyerah, Bana? Atau … siapa nama aslimu?”
Aku melempar pedang sekuat tenaga ke arah langit-langit, lalu menerkam Adrianna. Kami jatuh tepat di tengah pentagram. Kedua tanganku mengunci tangan Adrianna dan aku duduk di atas perutnya, menekan betina itu ke lantai.
Suara benturan logam terdengar di atas kami, dan aku tersenyum puas. Betina di bawahku menyadari maut telah dekat, karena sorot matanya berubah sama sekali.
“Banael,” bisikku di depan wajah ketakutan Adrianna. “Ingat itu, Iblis.”
Suara menderu di atas kami hampir mencapai puncak kepalaku ketika akhirnya aku berguling dan membiarkan kandil raksasa itu jatuh menimpa Adrianna. Ia bahkan tak sempat menjerit. Pedang Hagrael jatuh ke lantai sesaat kemudian, dan kupungut.
Kita berhasil, Hagrael. Aku dan pedangmu.
Aku mendekati Adrianna untuk melakukan ritual terakhir, agar tubuh manusia betina ini takkan bisa dibangkitkan lagi oleh setan mana pun. Kutusukkan pedang Hagrael di jantungnya. Darah menggenang. Kedua mata Adrianna membeliak. Dan dari mulutnya yang terbuka, bayangan gelap keluar perlahan-lahan, membentuk gumpalan yang semakin lama semakin pekat. Jadi inilah Azazil, pikirku.
“Bagaimana rasanya berkenalan dengan maut, Azazil?” kataku.
Sekonyong-konyong bayangan itu melejit naik ke dan menabrak wajahku. Aku berteriak-teriak kesakitan karena sesuatu seperti merasuki pori-pori wajahku dengan paksa, terasa amat perih. Aku berguling, menendang, mencakari wajahku, tapi sia-sia. Kegelapan memenuhi otakku, lalu kemudian reda. Ketika aku membuka mata, semuanya terasa berbeda. Mayat Adrianna dan kandil masih di lantai, darah masih tergenang, tetapi ruangan terang benderang. Aku bangkit, mencabut pedang dari tubuh Adrianna, dan merasakan kekuatan baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku telah membunuh Iblis, dan rasanya menyenangkan sekali. Bagaimana rasanya membunuh malaikat? Ah, aku sangat penasaran. Malaikat dengan kekuatan Iblis sangat jarang, bukan?
Sebaiknya aku pulang sekarang. Azriel pasti telah menungguku.






Comments
3 Comments

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Artikel Yang Keren Sob.. :D

Awan Aprilino mengatakan...

Artikel nya keren sob
keep update

Unknown mengatakan...

Keren...