Tuhan mungkin sedang bercanda ketika menciptakan aku dan
Hagrael. Dari ratusan malaikat mautnya, hanya kami berdua yang begitu mirip
satu dengan lainnya. Mulanya tak sedikitpun yang kuketahui tentangnya, sampai
suatu saat di pertemuan akbar tahunan para malaikat maut, Azriel Sang Pemimpin
mengumumkan bahwa malaikat maut dengan prestasi ketepatan kerja hanyalah aku
dan Hagrael. Karena hadiah cuti kerja satu dekade hanya untuk satu malaikat,
tak ada yang memenangkannya tahun itu. Sejak saat itu, persaingan kami terus
membara. Dan sejak saat itu pula, belum ada malaikat yang memenangkan hadiah.
Demi mengalahkan Hagrael, aku meminta
Daftar Nyawa tambahan dan dikabulkan. Semua nama di daftar itu kucabut nyawanya
dengan tepat, cara kematian sesuai yang tertulis, dan tak satu pun yang
meleset. Aku cukup percaya diri ketika mengikuti pertemuan akbar tahun
berikutnya, namun lagi-lagi Hagrael menjegalku dengan prestasi kerja yang
persis sama. Pun tahun-tahun berikutnya. Belakangan Azriel memberitahuku bahwa
Hagrael juga meminta Daftar Nyawa tambahan pula, sama denganku. Itulah sebabnya
nilai kami selalu sama.
“Belum menyerah, eh, Banael?” seringai
Hagrael menghiasi wajah tampannya ketika kami berpapasan di pintu keluar.
“Boleh juga semangatmu.”
“Terima kasih untuk pujian palsumu.
Simpan saja kembaliannya,” jawabku dengan senyum manis di bibir.
Hagrael menatapku lama. Kemudian
berujar, “Sampai jumpa, Betina. Jaga diri baik-baik.”
“Kau juga, Jantan.” Aku tak
sungguh-sungguh. Siapa yang butuh dia baik-baik saja? Cih. Jelas bukan aku.
Aku memasukkan Daftar Nyawa baruku ke
punggung tangan kiriku; kali ini panjangnya dua kali lipat tahun lalu, sesuai
permintaanku pada Azriel. Daftar Nyawa itu kami terima berupa gumpalan cahaya
kecil yang merasuk ke dalam kulit, dan kemudian muncul di telapak tangan sesuai
urutan kematian, berpendar seperti neon mini. Nama itu takkan berganti sampai
yang bersangkutan berhasil kami cabut nyawanya.
Sadar kalau Hagrael pasti juga meminta
hal yang sama, daftar tambahan, aku masuk kembali ke dalam aula dan menghampiri
Azriel yang berdiri sendirian di depan Jendela Manusia. Semua malaikat
bawahannya telah membubarkan diri dan kembali ke Daftar Nyawa masing-masing.
“Nah, Banael, kau membuatku
bertanya-tanya mengapa kau kembali lagi padaku,” sapa Azriel dengan senyumnya
yang menenangkan. Sayapnya yang putih berkilauan terlipat rapi di punggungnya.
“Aku ingin poin tambahan lagi.”
Azriel tertawa kecil. “Tidakkah Daftar
Nyawamu tahun ini cukup panjang?”
“Mungkin. Tapi aku ingin tantangan
lebih.”
“Untuk mengalahkan Hagrael?”
Tanpa menutupi niatku sedikit pun, aku
memberi Azriel jawaban absolut, “Ya.”
Seperti sengaja membuatku punya
kesempatan melihat ke dalam Jendela Manusia, Azriel terdiam. Jendela itu
sebenarnya hanya lubang di dinding, tapi hanya dengan satu sentuhan dari
Azriel, jendela itu mampu menampilkan kehidupan di Bumi, persis film di dunia
manusia. Aku mendapat kehormatan bersama Azriel berbagi pemandangan seorang
manusia betina yang sedang makan dengan seorang manusia jantan. Ketika
partnernya muntah darah dan menggelepar di lantai, manusia betina itu tertawa
dan pergi begitu saja.
“Kau lihat manusia ini? Aku telah
mengamatinya beberapa tahun terakhir ini dan sepertinya tidak mampu berhenti
melakukan berbagai dosa. Tuhan telah kecewa padanya dan memutuskan untuk
mencabut nyawanya,” papar Azriel.
“Lalu? Apa sulitnya?”
“Dia bersekutu dengan setan.”
Oh. Pantas Azriel terus menerus
mengamatinya. Persekutuan dengan setan bisa membuat manusia mengelabui malaikat
maut yang mendekatinya, karena setan mengisiki telinganya. Berulang dan
berulang, seorang manusia bisa memperpanjang umurnya karena ini, dan bahkan
mampu menipu mata manusia lainnya dengan penampilan yang muda abadi.
“Manusia betina ini sudah mengantongi
tiket ke neraka,” ucapku pelan.
Azriel menatapku, “Ya, tapi bagaimana
menjebloskan dia ke sana? Takkan ada malaikat yang bisa mendekatinya tanpa
diketahui setan pendampingnya.”
Tak ada malaikat yang bisa mendekatinya.
Kalimat ini terngiang di kepalaku
berulang-ulang, sampai akhirnya aku sadar kalau Azriel baru saja memberiku
tugas istimewa. Pemimpinku ini menatapku penuh arti, dengan senyum tersungging.
Tentu saja aku akan berhak meraih poin tambahan kalau berhasil melakukannya.
“Berikan dia padaku,” kataku, dengan
kesadaran penuh aku mungkin takkan bisa kembali lagi.
Azriel mengangguk. Aku pergi
meninggalkannya setelah ia memasukkan seutas cahaya di tangan kiriku. Daftar
Nyawaku mendadak sirna, tergantikan satu nama saja: Adrianna Lowe. Hanya satu
manusia dan dia bernilai lebih dari seluruh nama di Daftar Nyawaku; manusia
berbahaya dengan prioritas utama untuk dibinasakan. Tak ada tanggal kematian,
pun caranya. Artinya aku tak dibebani batas waktu dan protokol kejadian
kematian.
Karena manusia ini bukan manusia biasa,
maka aku akan mendekatinya dengan cara yang berbeda. Biasanya aku cukup
menggerakkan mobil, meruntuhkan jembatan, atau meniup air bah, kali ini aku
takkan bisa memakai kekuatan aktif malaikatku. Aku telah memutuskan untuk
menjadi manusia.
Sayapku mengepak kencang mengantar
tubuhku turun ke Bumi. Di rimbun pepohonan aku mendarat, terlindung dedaunan
dan kelam malam. Perlahan kedua sayapku meranggas, lembar bulunya berkumpul
menjadi satu onggokan di tanah. Aku menggunakan sisa kekuatanku untuk membuat
pakaian dan sekantung uang manusia. Tak ada genangan air di sekitarku, tapi aku
cukup yakin tampilanku menarik untuk ukuran manusia betina dewasa. Aku beranjak
setelah berpakaian, melirik sekilas tumpukan bulu di tanah yang
berangsur-angsur lenyap dari pandangan. Kalau perhitunganku tepat, sebentar
lagi aku akan bertemu dengan targetku.
Dengan kaki telanjang aku menyusuri
tepian hutan. Jalan setapak bertemu dengan jalanan berbatu kemudian berujung di
jalan beraspal, membuatku lega. Telapak kakiku telah terluka dan berdarah
sedari tadi. Aku benci menjadi manusia. Tapi setiap kali aku hendak mengeluh,
seringai menyebalkan Hagrael muncul di benakku dan api di dadaku berkobar lagi.
Tepat ketika jalanan berkelok, aku mendengar suara gerungan mesin dari
belakang.
Nah! Aku mengitung sampai tiga, lalu
menjatuhkan diri ke tengah jalan.
Suara roda berdecit dan mobil nyaris
saja mengenai ujung hidungku. Untuk pertama kalinya aku melihat bayangan wajah
baruku di bemper yang terbuat dari lempengan besi anti karat: rambut pirang
berantakan, kulit coklat, dan mata keperakan–satu-satunya ciri kemalaikatanku
yang masih tersisa di tubuh manusia baruku.
Sejurus kemudian suara pintu dibuka,
langkah kaki, dan kemunculan manusia jantan berseragam yang sudah hendak
membuka mulut untuk meneriakiku tapi lantas tertegun. Aku menatapnya dengan
pandang memelas. Manusia jantan itu memasung matanya ke arahku, berdiri dengan
mulut membuka dan menutup seperti ikan mas koki.
Suara pintu lain dibuka, disusul langkah
kaki yang lebih ringan, dan muncullah dia di sisi lain mobil–Adrianna Lowe!
Betina ini memesona di usianya yang tidak muda lagi–kulit putih cemerlang,
rambut pirang ikal dan bibir semerah darah. Mata malaikatku melihat kecantikan
yang tidak manusiawi darinya, dan mata manusianya balas melihatku tanpa
berkedip.
Apakah penyamaranku ketahuan?
“Kau baik-baik saja?” tanya Adrianna,
lalu tertangkap olehnya kedua telapak kakiku yang berdarah. “Kau terluka. Di
mana rumahmu?”
Aku memasang tampang memelas. Dengan air
mata menggenang kujawab pertanyaannya, “Aku dibuang orangtuaku …”
Ajaib. Manusia betina itu percaya. Ia
memerintahkan manusia jantan bertubuh besar tadi untuk membopongku ke dalam
mobil, membawaku, dan menjadikanku bagian dari rumahnya. Ia mengobati kakiku,
memberiku makanan, pakaian dan tempat tinggal yang kesemuanya tak kubutuhkan.
Aku tak suka pakaian manusia yang rumit dan berat, tak suka masakan manusia
yang terlalu berbumbu dan cenderung membuang-buang makanan, dan aku tak suka
tingkah laku manusia di rumah itu yang sama sekali tak ingat Tuhan. Setiap kali
aku merasa penat menjadi manusia, kubayangkan wajah Hagrael. Mengingat sekarang
aku begitu dekat dengan Adrianna, aku menguatkan diriku untuk bertahan dalam
tubuh manusia.
Satu bulan tinggal di rumah Adrianna
yang menyerupai kastil, aku mulai memahami pola pergerakan orang-orang di
dalamnya. Adrianna tak menikah, tak punya anak, tapi ia memungut banyak
gadis-gadis muda yang tinggal di satu kamar sangat besar, dan aku ditempatkan
di sana juga. Para pelayannya kebanyakan sudah tua dan semuanya tak pernah
tersenyum. Mereka yang masih muda adalah para pengawal dan sopir Adrianna.
Mereka juga tinggal di rumah yang sama, dan tak satu pun yang percaya Tuhan itu
benar-benar ada.
Aku menemukan satu ruangan mencurigakan
yang pintu kayu besarnya selalu tertutup. Kami selalu melewatinya setiap akan
pergi ke ruang makan. Setiap minggu orang-orang berdatangan ke rumah itu dan
mengadakan pertemuan tertutup di dalamnya, lalu pergi lagi menjelang fajar.
Satu per satu gadis-gadis muda yang ditempatkan satu ruangan denganku
menghilang, dan aku yakin sangat erat kaitannya dengan ruangan misterius itu.
Satu hal lagi yang lebih penting: aku
harus menemukan cara untuk mengakhiri hidup Adrianna. Mereka tak membiarkanku
keluar rumah sama sekali, jadi aku harus mencari akal dan menggunakan apa yang
ada. Racun, aku tak punya. Pisau, banyak di dapur, tapi tak ada kesempatan
menyelinap ke sana. Dan terutama, tak mudah mendekati Adrianna ketika ia sedang
sendiri saja. Hanya satu kali dalam sehari kami berkesempatan bertemu
dengannya: makan malam.
“Kau cantik sekali, Bana,” bisik
Adrianna ketika aku kebetulan duduk di dekatnya. “Kakimu masih sakit?”
Aku tersipu, lalu menggeleng sambil
tersenyum malu. Dalam hati aku menahan tawa, betina ini mau saja tertipu
penampilan gadis-polosku.
“Bagus sekali. Sudah saatnya,” Adrianna
tersenyum puas, matanya berkilat-kilat.
“Untuk apa?”
“Melayaniku, Sayang.”
Aku tersenyum, mengamati Adrianna
meneguk anggurnya dengan lirikan penuh arti. Lalu pandanganku tertumbuk pada
seorang manusia jantan yang berdiri merapat dinding. Dia belum pernah kulihat
sebelumnya. Rambut cokelatnya dipotong sangat pendek, hidung agak bengkok, dan
tubuhnya tinggi tegap. Dia memelihara janggut dan brewok. Aromanya aneh. Satu
detik ia membalas tatapanku, tahulah aku kalau ia bukan manusia.
Setan pendamping Adrianna?!
Makhluk ini menyeringai padaku. Aku
mencengkeram garpu, bersiap-siap jika makhluk ini membongkar rahasiaku di depan
semua orang. Hanya satu pintu keluar, tapi aku tak keberatan menghancurkan kaca
jendela.
Adrianna mengelap bibirnya dengan
serbet. Ia membungkuk sesaat setelah bangkit, berbisik di telingaku,
“Bersiaplah. Kutunggu di Ruangan Rahasia.” Lalu bersama makhluk itu, betina
incaranku meninggalkan ruangan.
Setelah diam-diam menyelipkan garpu di
balik lipatan gaun, aku beranjak menuju ruangan itu, tempat misterius yang
telah lama ingin kubongkar rahasianya. Adrianna telah berada di dalam,
sendirian. Ia memberi isyarat padaku untuk mengunci pintu, dan kuikuti
perintahnya. Tak ada tanda-tanda makhluk tadi sama sekali.
Ruangan itu besar, berlangit-langit
sangat tinggi, dan di luar dugaan tak ada sesuatu pun di atas lantai hitamnya
kecuali aku dan Adrianna. Dindingnya sewarna lantai, pun langit-langitnya yang
digantungi kandil raksasa. Hanya ada satu lukisan besar di dinding, menampilkan
Adrianna dengan benda serupa tanduk kambing di kepalanya …
Lampu mendadak mati dan aku terjebak di kegelapan,
tepat di tengah-tengah ruangan. Lantai yang kupijak perlahan mengeluarkan sinar
yang membentuk sebuah pentagram terbalik di dalam lingkaran. Aku terjebak.
“Gadis bodoh, apa yang kau cari? Apa kau
pikir Azazil tidak tahu?”
Azazil! Lemas sudah tubuhku. Kalau
betina ini budak Azazil, sang Iblis, maka tipis kemungkinan aku bisa
menghabisinya. Adrianna tertawa kecil.
“Kau datang untuk apa, Hamba Tuhan?
Mengembalikan imanku?”
Aku tidak menjawab, sementara Adrianna
terus melempar pertanyaan. Perlahan kukumpulkan kekuatan, siaga untuk kulepas
kapan pun aku perlukan.
“Aku penasaran,” Adrianna menunjuk ke
arah belakangku dengan telunjuk lentiknya, “apakah kau bisa mengalahkannya.”
Makhluk tadi! Bagaimana ia bisa masuk
tanpa kuketahui?!
Manusia jantan yang tadi kulihat di
ruang makan melangkah ke sampingku. Temaram cahaya dari pentagram menyinari
seringai bibirnya, membuatku bertanya-tanya di mana pernah kulihat seringai
itu. Tangan kanan makhluk itu terangkat ke arahku.
Secepat kilat kulempar garpu ke arah
Adrianna dengan dorongan kuat, lalu kusambut tangan itu. Suara berderak muncul
di seberang ruangan. Cih, pikirku. Betina itu lolos, garpuku menancap ke
tembok. Aku menghantam perut lawan jantanku, lalu melesat ke arah Adrianna yang
telah berada di sisi lain ruangan. Adrianna mengelak, menjejakkan kaki ke tanah
dan bagaikan menafikan gravitasi bumi, tubuh rampingnya melayang di udara.
Sebelum sempat melakukan sesuatu, pelipisku dihantam sebuah tinju dan aku
terpelanting ke lantai.
Bayangan hitam besar melewatiku dengan
kecepatan tinggi, menuju dinding dan menjadikannya pijakan untuk tolakan, lalu
melompat tinggi menuju Adrianna. Kurasa betina itu terkejut dengan serangan
tiba-tiba makhluk yang tadinya anak buahnya, karena ia berteriak marah. Aku
tidak mengerti dan tidak dapat melihat apa yang terjadi di atas karena
kegelapan mutlak menyelimuti. Suara-suara pertempuran kudengar jelas tanpa bisa
kulihat.
Sesosok tubuh terhempas ke lantai.
Adrianna! Tubuhnya penuh darah bekas amukan makhluk jantan tadi, mengerang
kesakitan. Tak tampak kesombongan yang biasanya menghiasai parasnya. Sesuatu
bergerak di udara dengan cepat ke arah Adrianna, yang kukenali bentuknya
sebagai pedang. Makhluk itu akan membunuh Adrianna, dan membuatku kehilangan
poin!
Cepat aku melejit dan merebut pedang itu
tepat sebelum mengenai Adrianna. Tanganku yang menggenggam pedang bergeming di
udara, tepat di atas jantung Adrianna. Aku merasakan aura surgawi dari pedang
itu, tapi tak sempat aku menduga lebih jauh.
“Kau … menyelamatkanku?” tanya Adrianna,
tak percaya.
“Siapa bilang?” desisku pelan. Sekuat
tenaga kutusukkan pedang itu, tapi makhluk jantan itu menerpaku sampai
terguling di lantai, dan Adrianna dengan cepat bangkit.
Untuk beberapa saat kami bergumul di
lantai, saling memukul, saling menghantam, saling menghindar. Hingga suatu saat
dia berhasil mengunciku di bawah tubuhnya, dengan lantai pentagram di bawah
tubuhku, dan temaram cahaya mencapai benda yang selama ini tidak terlihat
olehku: sepasang mata keperakan. Mata malaikat. Dan aku mengenali sosok di
balik tubuh manusia palsu itu.
“Hagrael?”
“Kau … kenapa ada di sini?”
Pertanyaan itu tak terjawab, pun aku tak
bisa bicara lagi pada Hagrael, karena Adrianna telah menusukkan pedang tembus
dari punggung ke dadanya. Pedang surgawi, tentu mematikan bagi makhluk fana,
tapi juga fatal bagi malaikat kematian. Tubuh manusia Hagrael kehilangan hidup.
Cahaya menyilaukan terpancar darinya sesaat sebelum lepas ke udara dalam bentuk
Hagrael yang biasanya, dengan kedua sayap terpentang lebar. Cahaya itu
membentuk senyum tulus sebelum tersedot ke atas dan hilang menembus
langit-langit.
Hagrael telah kembali ke surga, tapi
takkan pernah ia bersama-sama kami lagi, karena ia pulang ke sisi Tuhan. Tanpa
sadar air mataku menetes. Betapa kami telah bersaing berabad lamanya, dan jatuh
karena diperdaya sesuatu bernama hasrat. Sesuatu yang tak seharusnya dipelihara
malaikat. Ini pertama kalinya aku merasakan kehilangan, dan penyesalan.
Persaingan kami terasa sia-sia sekarang.
Telingaku mendengar suara kekehan
Adrianna, dan sadar kalau pertempuran kami belumlah usai. Aku melompat bangkit
dengan segenap kekuatan. Sayapku menyeruak muncul dari punggung dan tubuh
manusiaku sirna, digantikan tubuh asliku: kulit seputih pualam dan rambut
hitam.
“Malaikat Kematian, eh?” ejek Adrianna.
“Kau yakin akan mudah mencabut nyawaku?”
Aku membalas ejekannya dengan sabetan
pedang, yang ditahan betina itu dengan perisai tak kasat mata. Pupil matanya
merah membara, memberiku informasi lain. Rupanya selama ini aku keliru, setan
pendampingnya tidak menemani Adrianna dalam bentuk manusia, tapi justru
merasukinya. Tapi kehilangan Hagrael membuatku buta dan tak peduli kalau aku
tengah melawan Azazil, Sang Iblis sendiri.
Adrianna tidak melawanku dengan senjata
yang secara fisik terlihat mata. Ia memadatkan udara, membentuknya menjadi
berujung tajam, dan menyerang. Kalau saja aku masih dalam tubuh manusia,
niscaya takkan bisa kudeteksi serangannya. Kami saling menebas, menghantam, dan
memburu satu sama lain. Lantai, dinding dan langit-langit seolah satu bidang
datar. Dari waktu ke waktu kudengar tawanya, mengejek seranganku yang tak
pernah mengenainya.
Memutar otak, aku sampai pada kesimpulan
bahwa Adrianna terlalu cepat bagiku. Tak mungkin mengejarnya, apalagi
melukainya. Aku perlu bantuan. Tapi apa?
“Menghindar terus, anak buah Azriel. Di
sini hanya ada aku, kau dan kandil di langit-langit itu. Mau minta tolong pada
siapa?” Adrianna meledekku. Tawa senangnya meledak ketika akhirnya ia berhasil
melukai kakiku.
Aku nyaris tersungkur. Kaki kananku
nyeri karena tertusuk sesuatu yang tak terlihat, tapi juga tak bisa dicabut
karena materinya terbuat dari udara. Aku memikirkan kalimat terakhir Adrianna
dan sebuah ide muncul.
“Menyerah, Bana? Atau … siapa nama
aslimu?”
Aku melempar pedang sekuat tenaga ke
arah langit-langit, lalu menerkam Adrianna. Kami jatuh tepat di tengah
pentagram. Kedua tanganku mengunci tangan Adrianna dan aku duduk di atas
perutnya, menekan betina itu ke lantai.
Suara benturan logam terdengar di atas
kami, dan aku tersenyum puas. Betina di bawahku menyadari maut telah dekat,
karena sorot matanya berubah sama sekali.
“Banael,” bisikku di depan wajah
ketakutan Adrianna. “Ingat itu, Iblis.”
Suara menderu di atas kami hampir
mencapai puncak kepalaku ketika akhirnya aku berguling dan membiarkan kandil
raksasa itu jatuh menimpa Adrianna. Ia bahkan tak sempat menjerit. Pedang
Hagrael jatuh ke lantai sesaat kemudian, dan kupungut.
Kita berhasil, Hagrael. Aku dan
pedangmu.
Aku mendekati Adrianna untuk melakukan
ritual terakhir, agar tubuh manusia betina ini takkan bisa dibangkitkan lagi
oleh setan mana pun. Kutusukkan pedang Hagrael di jantungnya. Darah menggenang.
Kedua mata Adrianna membeliak. Dan dari mulutnya yang terbuka, bayangan gelap
keluar perlahan-lahan, membentuk gumpalan yang semakin lama semakin pekat. Jadi
inilah Azazil, pikirku.
“Bagaimana rasanya berkenalan dengan
maut, Azazil?” kataku.
Sekonyong-konyong bayangan itu melejit
naik ke dan menabrak wajahku. Aku berteriak-teriak kesakitan karena sesuatu
seperti merasuki pori-pori wajahku dengan paksa, terasa amat perih. Aku
berguling, menendang, mencakari wajahku, tapi sia-sia. Kegelapan memenuhi
otakku, lalu kemudian reda. Ketika aku membuka mata, semuanya terasa berbeda.
Mayat Adrianna dan kandil masih di lantai, darah masih tergenang, tetapi
ruangan terang benderang. Aku bangkit, mencabut pedang dari tubuh Adrianna, dan
merasakan kekuatan baru yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Aku telah membunuh Iblis, dan rasanya
menyenangkan sekali. Bagaimana rasanya membunuh malaikat? Ah, aku sangat
penasaran. Malaikat dengan kekuatan Iblis sangat jarang, bukan?
.jpg)