Pemuda jangkung berambut coklat terang terlihat berlari kalang kabut seraya menggeret sebuah tas jinjing yang cukup besar dan berat yang berisi peralatan berbahaya untuk 'berperang’.
“Cepat, Kris!” teriak pria paruh baya yang tengah bergelut dengan angin.
Sosok pria yang terlihat ‘gila’ karena menendang, memukul dan menangkis sesuatu yang tak kasat mata ini mulai kuwalahan hingga akhirnya dia terpental dan membentur pohon. Sedangkan pemuda usia 20 tahunan itu terlihat sibuk mengobrak-abrik isi tas dengan muka panik.
“Ekh! Kris! Tarik busur panah itu sekarang!” perintah pria paruh baya berambut ikal.
Kris masih terlihat ragu. Tangannya bergetar hingga merambat pada busur dan anak panah yang dibentangkannya. Dia tak menyangka bahwa dirinya benar-benar akan menjalankan misi berbahaya ini. Kris hanyalah orang baru dalam organisasi pembasmi Dark Creature(makhluk mitos yang dianggap membahayakan Manusia), sehingga kemampuannya belum bisa diandalkan dan kini dia harus menancapkan anak panah pada makhluk yang tak nampak itu? Bagaimana bisa? Jika dia malah mengenai seniornya bagaimana? Jika bidikannya meleset dan makhluk itu berbalik menyerangnya bagaimana? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus bergulir dalam pikiran Kris.
“Ak-aku... Aku....”
“Jangan ragu! Bidik sekarang!” teriak pria yang tengah melayang seolah ada sesuatu yang mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
“Mati kau!” teriaknya bersamaan dengan dilepaskannya anak panah dari busurnya.
***
Darah-darah berceceran memenuhi tanah lapang dengan rerumputan yang tumbuh jarang-jarang. Pria paruh baya itu kini sudah tak bernyawa dengan jasad yang bisa dibilang tidak dalam kondisi baik.
Panah bermata perak murni itu ternyata meleset. Bukan karena Kris tak memiliki keahlian dalam hal membidik sasaran. Malahan dialah lulusan terbaik dalam Dark Creature’s Slayer Training. Namun hal yang memicu kegagalannya hanyalah kegugupan serta rasa takut.
Kini Kris hanya bisa berlari pasrah dengan peluh yang membanjiri sekujur tubuhnya. Dalam batinnya, dia terus berdoa agar selamat dari makhluk tak kasat mata yang dia percaya sudah berada dekat dengannya. Tapi bertolak belakang dengan doa yang dia panjatkan, dalam dirinya muncul banyak keraguan bahwa tak ada kemungkinan untuknya bisa pulang hidup-hidup. Dan benar saja. Tak beberapa lama dia terkejar. Punggungnya tiba-tiba serasa dihantam dengan pukulan yang maha dasyat hingga membuatnya terpental beberapa meter. Dia pun terbatuk darah.
“TUNJUKKAN DIRIMU MAKHLUK JAHAT!” teriaknya kalap karena dia terus merasa dipermainkan. Hanya menjadi bulan-bulanan pukulan yang dilayangkan makhluk itu.
Baginya jika harus mati, matilah sekarang tanpa banyak rasa sakit tapi sepertinya pikirannya tak sama dengan makhluk yang dihadapinya. Ada suara kikikan tanpa wujud. Suara yang menyiratkan rasa senang atas apa yang dia perbuat pada Kris.
“Terlalu cepat berjuta tahun untuk manusia seperti kau dan si Tua itu dapat membunuhku!” tukas makhluk tak terlihat itu. Terdeteksi dari jenis suaranya, makhluk itu pasti seorang wanita.
Hembusan hangatlah yang mampu Kris rasakan sehingga dia tahu keberadaan Dark Creature itu berada. Dalam deraan rasa sakit, dia tiba-tiba merasakan suatu yang familiar. Masa lalu tiba-tiba menghantam pikirannya. Hingga tanpa sadar bibirnya berbisik lirih, “Suara itu... Krystal?”
Ucapan tertahannya menghasilkan kesunyian. Cukup lama keheningan itu tercipta. Hingga membuat Kris heran. Matanya beredar ke sekeliling seraya memfokuskan indera perasanya untuk merasakan keberadaan Dark Creature yang baru saja dia tebak bernama Krystal.
Lamat-lamat sesosok wanita mulai nampak di hadapannya. Awalnya cukup mengabur di penglihatan Kris tapi perlahan sosok itu mulai nampak nyata. Cantik dan anggun. Hanya dua kata itu yang mampu terlintas dalam benak Kris ketika menatap wanita berparas sempurna dengan rambut panjang bergelombangnya terurai dan beriap-riap terkena hembusan angin malam yang cukup kencang. Di dahinya—tepat ditengah-tengah—menyembul dan nampak berkilap sebutir kristal berwarna biru tosca. Semakin mata Kris menatap jelas kristal itu semakin yakin dia, bahwa sosok itu adalah seorang gadis yang diselamatkannya dulu.
“Kau... Penyelamatku?” Sosok itu berucap. Wajah bingung terpatri dalam ekspresinya.
“Suaramu... Aku tak pernah melupakannya. Ter-ternyata gadis yang kuselamatkan beberapa tahun lalu adalah Dark Creature ras Dryad—Peri Penjaga Hutan?!” Kesadaran Kris akan perlakukan yang telah Krystal lakukan barusan, kembali. Amarahnya mulai merambat naik karena Trainer-nya sudah disiksa oleh Krystal hingga tak bernyawa dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. “Kenapa gadis itu harus kau?! Kenapa dulu kuselamatkan kau!” teriak Kris frustasi. Terlampir amarah dan rasa penyesalan dalam dirinya. Tapi menyempil sedikit rasa syukur. Mungkin jika Dryad itu tak mengenalnya, bisa saja kini Kris juga bernasib sama dengan Trainer-nya.
Pekikan Kris membuat Krystal seketika mundur perlahan. Sorot mata terluka dan marah itu membuat dadanya seketika sesak. Sosok yang dirindukannya sekian lama muncul tanpa diduga dan berubah menjadi musuhnya. Itu adalah suatu pukulan tersendiri bagi Krystal.
“Aku terpaksa melakukan itu. Aku harus membunuh agar bisa selamat. Agar bisa terus hidup. Mengertilah.” Krystal berucap dengan nada memohon. Rasanya langkah kakinya ingin bergerak maju, ingin menyentuh Kris. Tapi sepertinya hal itu malah akan membuat Kris bertambah marah. “Organisasi itu buruk untukmu. Mereka itu—”
“Apa?! Makhluk kejam sepertimu itu memang perlu dibasmi! Master Choi adalah Traineryang menyelamatkanku dari makhluk-makhluk macam kalian! Dark Creature buas yang hanya bisa membunuh manusia! Dia sudah seperti ayahku sendiri!” Kris berdiri. Matanya meredar ke sekeliling, mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikannya senjata. Setelah dia temukan dengan cepat dia raih dan berlari dengan gerakan menyerang ke arah Krystal. “Mati kau!” Kris menghunuskan belati kecil yang tadi sempat terjatuh ketika dia terpental.
Sigap. Krystal menghindar. Gerakannya seolah seperti diterbangkan angin. Melayang dengan gesitnya. “Sebaiknya aku pergi. Kau tenangkanlah dirimu. Soal membunuh pria tadi, aku minta maaf. Jika aku tahu dia berarti bagimu, mungkin aku akan mengampuni nyawanya.” Setelah berucap, Krystal lenyap tak berbekas.
***
Di tepi danau Kris berada sejak beberapa jam lalu. Air yang semula tenang itu lantas beriak karena lemparan batu yang Kris layangkan. Kejadian semalam sungguh membuatnya syok dan terpukul.
Dua hal yang membuat Kris sangat merasa menjadi orang yang menyedihkan adalah karena, pertama Master Choi telah meninggal dan pasti membuatnya terpuruk. Selain itu membuatnya enggan kembali ke Markas. Harus bagaimana dia menjelaskan pada Madam Victoria, sang Pimpinan tertinggi di Dark Creature’s Slayer Association? Anak didik yang selalu digadang-gadang oleh Master Choi itu telah gagal bahkan mencelakai gurunya sendiri. Kris terlalu takut untuk pulang. Lalu yang kedua adalah kemunculan Krystal. Sosok yang ditunggu kehadirannya, ternyata bertemu di situasi yang buruk. Hatinya serasa menelan pil kekecewaan yang maha pahit dan menyakitkan.
“Sial! Percuma aku menanti kemunculanmu kembali. Aku jadi merasa menjadi bocah ingusan yang ditipu mentah-mentah!” teriaknya seraya melempar kuat-kuat batu kerikil yang dia genggam.
Tak berapa lama Kris terjun ke danau itu. Terus berenang agar segala amarah tersalurkan. Mengayun dan terus saja mengayun hingga dirinya merasa tak sanggung lagi untuk bergerak. Bukannya emosi itu tersalurkan, Kris malah selalu saja teringat kenangannya ketika Krystal mengucapkan sumpah setelah Kris menolongnya.
“Jika kau sudah dewasa nanti aku akan menjadi kekasihmu. Kelak, kita bisa bersama selamanya,” ucap seorang gadis bergaun putih yang di beberapa bagian kainnya terbakardisertai sebuah senyum menawan kepada seorang bocah laki-laki usia belasan tahun.
Tak ayal bocah ini cukup terpaku ketika mendengar penuturan sang gadis cantik yang usianya terlihat jauh lebih tua darinya. Apalagi setelah gadis bermata sewarna dengan manik bersinar di dahinya itu mengecup bibirnya singkat, sontak bocah ini mendadak ambruk lemas. Mungkin karena kelelahan atau tak kuat dengan pesona keanggunan yang terpancar serta sentuhan lembut dari bibir ke bibir yang tak pernah dia sangka akan didapatnya. Hasil dari upah perbuatan mulianya.
“Sampai jumpa, Penyelamatku,” lanjutnya setelah tautan bibir keduanya terlepas. Gadis itu membelai lembut pipi sang bocah bermata abu-abu yang sudah terkulai pingsan. Dibaringkanlah bocah itu di hamparan tanah yang masih tersisa asap hangat yang menguar di sekitarnya. Setelah itu dengan cepat tubuhnya menghilang dalam sekali kedipan mata.
Sejak saat itu dipeganglah sumpah sang Gadis. Dia menunggu. Terus menunggu kemunculan sang Gadis yang telah merenggut ciuman pertamanya. Hingga suatu ketika sebuah peristiwa merenggut kebahagiaan sang Bocah.
***
Malam telah datang.... Dalam pekatnya kegelapan tanpa adanya sinar Bulan sedikit pun, nampak Kris tengah terlelap pulas. Dia tidur meringkuk di depan api unggun yang dia ciptakan sendiri dengan susah payah. Tak nampak raut was-was atau rasa takut oleh serangan binatang-binatang buas penghuni hutan Amethyst. Sejak meninggalnya sangTrainer, Kris tak lagi memiliki semangat hidup. Kalau pun ada yang menyerangnya, dia sudah tak peduli.
Hembusan angin sepoi semakin membuainya. Kesadarannya benar-benar sudah menghilang. Berlabuh ke alam mimpi. Sehingga membuat Krystal berani menampakkan diri dengan jarak yang begitu dekat dengan Kris. Krystal melayang, perlahan semakin turun hingga akhirnya menapak tanah. Langkah berjingkat itu berhenti tatkala dia sudah berada sangat dekat dengan Kris. Krystal duduk tanpa mengalihkan padangan matanya dari wajah Kris yang tenang. Tangannya terulur pelan-pelan dan membelai pipi Kris penuh sayang.
“Aku sedih melihat sorot kebencian di matamu. Di mana sorot mata polos dan penuh keberanian yang dulu itu?” ucap Krystal dengan suara yang lirih.
Terlintas dalam benaknya, masa lalu di mana dia dan Kris pertama bertemu. Ketika itu, Kris nampak sangat berbeda dengan sekarang. Tapi meski masih amat muda dan lemah Kris begitu gigih mematikan sebuah api yang membakar pohon. Penduduk lain sudah pasrah akan kebakaran hutan yang terjadi tapi tidak dengan Kris. Dia tetap mengambil air dari sungai terdekat lalu bolak-balik menyiramkan air yang debitnya tak seberapa itu ke arah hutan. Hingga suatu saat dia mendengar suara teriakan. Di salah satu pohon di bagian terluar hutan lamat-lamat dia melihat seorang gadis duduk di salah satu dahan tertinggi. Tanpa pikir panjang Kris berlari mencoba menyelamatkan gadis itu meski penduduk meneriaki Kris agar takmendekati hutan. Anehnya, gadis itu tak mau ketika Kris menyuruhnya melompat lalu kabur dari kobaran api bersamanya. Dia malah memohon agar Kris mau mematikan api di pohon yang ditumpanginya. "Hanya pohon ini saja. Karena pohon ini adalah nyawa terakhirku,’" ucapnya waktu itu. Dan beberapa jam kemudian kobaran itu mereda. Pohon itulah satu-satunya yang tak hangus terbakar.
“Tahukah kau, bahwa yang membakar hutan ini adalah organisasi yang kau naungi sekarang? Bertahun-tahun orang-orang suruhan dari Dark Creature’s Slayer Association mencoba membunuhku. Organisasi itu tak sebaik yang kau kira. Mereka terlalu terobsesi untuk membasmi semua Creature tanpa pandang ras. Padahal kaum Dryad sepertiku tak pernah menyakiti Manusia. Jika ingin memerangi Creature, basmilah para ras Vampire atau Werewolf dan lain sebagainya tapi bukan Dryad. Bukan aku yang hanya mencoba bertahan hidup dengan melindungi hutanku.” Krystal masih terus berbisik lirih. Air mata itu mulai menggenangi mata bulatnya dan begitu mengedip seketika luruhlah cairan kesedihan itu.
“Kalau kau tak sejahat Werewolf sialan yang membasmi semua keluargaku... KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH MASTER CHOI DENGAN BEGITU SADIS?!” Tiba-tiba Kris berucap begitu membuka mata. Tangannya dengan cepat mencengkeram tangan Krystal yang tadi membelai pipinya.
Krystal tersentak. “Itu demi hutan ini dan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Jika aku memang jahat pasti sudah kucelakai kau atau Penduduk Desa tempatmu tinggal dulu,” sahut Krystal.
Manik mata berkilap-kilap penuh amarah nampak dan menyorot tajam menghujam Krystal. “Satu hal lagi. Saat itu, kenapa tak kau selamatkan kami, para Penduduk Desa yang tinggal di sekitar hutanmu, hah?!” Suara Kris menegang. Emosinya kembali tak stabil. “Bukan kah kau begitu kuat? Dengan mudahnya kau menghempaskan Master Choi. Mengendalikan dahan-dahan pohon, akar-akar tanaman untuk menyerang kami dan kau dengan begitu cepat menyusulku, juga muncul tiba-tiba di mana pun, tapi kenapa kau tak menyelamatkan Penduduk Desa? Bukankah mereka selalu menjaga hutan ini? Tak pernah merusaknya. Kenapa kau hanya berdiam diri?!” Kris berdiri. Dia semakin nampak marah.
“Maafkan aku. Aku hanya bisa berada di teritorialku. Aku tak bisa keluar dari hutan ini. Hutan Amethyst inilah yang menciptakanku lewat intisari-intisari yang perlahan membentuk eksistensiku. Kami terhubung dan tak bisa dipisahkan.” Krystal menyentuh kedua bahu Kris. Berharap amarah pemuda itu mereda.
Kris terdiam.Tangannya mengepal erat. Terus terang saja, dalam hatinya gejolak amarah masih tak tertahankan. Ingin rasanya dia menumpahkan segala dendam yang menderanya pada sosok gadis di hadapannya akan tetapi begitu menatap mata memohon Krystal, menelusuplah rasa tak tega yang berbaur dengan rasa cinta. Tak bisa dia pungkiri. Krystal selalu menempati salah satu sudut di hatinya. Meski sudah bertahun-tahun dia tak lagi tinggal di desa yang sudah mati itu tapi Kris tak pernah sekali pun lupa oleh perasaan berbunganya sewaktu pertama Krystal menciumnya.
Tanpa banyak kata. Kris akhirnya berbalik, memunggungi Krystal. Di sini, selain membuatnya merasa sakit karena terkenang kejadian bertahun-tahun lalu di mana semua orang yang dia cintai mati. Dia juga merasa bersalah pada Master Choi, orang yang menolongnya bangkit dari keterpurukan, merawatnya seperti anaknya sendiri dan membantunya membalaskan dendam pada kawanan Werewolf keji yang dulu memporakporandakan Desa. Jika dia terbujuk oleh Krystal berarti dia sudah mengkhianati sang Panutan. Namun dia juga tak sanggup membunuh gadis di belakangnya itu. Jadilah sekarang dia memilih pergi dari sini.
“Kris!” Krystal mendekap erat tubuh Kris begitu pemuda itu melangkah menjauh.“Tinggallah di sini, bersamaku,” ucap Krystal.
“Tidak! Aku bukan Pengkhianat!”
“Berpikirlah waras! Jangan kembali ke tempat Organisasi itu. Kau hanya dimanfaatkan oleh ambisi mereka. Tetaplah bersamaku maka akan kuberikan sebagian kekuatan padamu. Kris, aku mohon.” Krystal terus mencengkeram erat tubuh Kris dan memohon dengan sungguh-sungguh.
“Kau bilang mereka tak sebaik yang kupikir namun mereka juga tak seburuk yang kau pikir. Kehadiran mereka sudah menolong banyak orang. Lepaskan aku!” Kris berontak. Menarik kencang tautan tangan Krystal namun tetap tak bisa.
“Tidak akan!” Krystal bersikukuh. Tangannya seketika berubah menjadi seperti batang pohon yang membelit Kris, sedang tubuhnya menjadi pohon Oak yang menjulang tinggi.
“Hei! Aku bukan tawananmu!” Kris mencoba berontak tapi benda yang membelitnya terlalu kuat. Hanya menghabis tenaga dengan sia-sia.
Krystal muncul tiba-tiba di hadapannya. Melangkah anggun lalu meraih kedua pipi Kris yang masih terjebak di pohon Oak, lembut. “Aku takkan melepaskanmu. Aku mencintaimu, Penyelamatku. Sekian lama bersedih hati karena kupikir kau juga ikut tewas bersama penduduk-penduduk yang baik itu. Percayalah, aku juga menyayangi mereka dan menyesalkan atas peristiwa yang menimpa desa tapi apa yang bisa kulakukan? Ayolah Kris.... Bukan kah kau juga mencintaiku? Kau sudah lama mengharapkan kemunculanku dan menepati janjiku, kan? Akan kubagikan kekuatanku dan kita bisa bersama selamanya di sini. Kau mau, kan?”
Kris membuang muka, tak peduli dengan bujukan Krystal. Dan Krystal pun menyerah lalu menghilang dari hadapan Kris setelah sebelumnya berucap, “Aku akan kembali lagi dan kau akan tetap seperti ini sampai kau mau.”
***
Hari-hari berlalu tanpa kata setuju di mulut Kris. Membuat Krystal semakin terpuruk melihat keadaan pemuda yang dicintainya mulai lemas karena tak mau memakan buah-buah yang dijatuhkan oleh pohon yang melilitinya atau pun meminum embun-embun yang menetes dari daun-daun.
“Kau tetap tak mau bersamaku? Menemaniku dan menghapus rasa sepiku?” tanyanya untuk yang kesekian kalinya. Matanya nanar menatap. Sorot itu nampak terluka dan membuat gejolak tak tega dalam hati Kris. “Ratusan tahun aku di sini. Hanya ditemani binatang dan tumbuhan-tumbuhan. Penduduk sekitar hutan yang sesekali datang tak bisa melihatku, membuatku hanya dapat memandangi para manusia sambil berjaga kalau-kalau mereka merusaknya. Lalu kau hadir dan menyelamatkanku ketika kebakaran hebat terjadi. Aku heran, kenapa kau bisa melihatku? Dan itu cukup membuatku senang dan merasa mungkin saja kau adalah manusia yang ditakdirkan untuk menemaniku. Apa kau tak menyadari hal itu?” Krytal mulai menangis. Dia tak tahan akan sakit yang didera hatinya karena keacuhan Kris.
Terdengar hembusan nafas panjang. Kris menunduk pasrah, menatap kayu yang melingkar erat di pinggangnya lalu mengalihkan pandangan mata kepada Krystal. “Baiklah. Aku bersedia bersamamu.” Kris tak mengelak. Sekarang dia memilih mengikuti kata hatinya.
Air mata itu malah semakin deras mengalir namun muncul senyuman lebar di bibir tipis Krystal. Seketika hilanglah pohon yang mengunci kebebasan Kris digantikan oleh pelukan penuh haru dari Krystal. “Benarkah apa yang kau katakan?”
Kris mengangguk dan membalas pelukan Krystal. “Aku akan menemanimu,” ujarnya lembut.
***
“Akan kuberikan separuh kekuatanku, asal kau bersumpah takkan meninggalkan hutan ini. Karena ketika kekuatan itu sudah ada padamu, kau milik hutan ini. Milik Amethyst. Termasuk nyawamu, Kris. Mengerti?” Krystal memberikan wejangan dengan sorot serius.
“Jadi aku akan menjadi sama sepertimu?" Kris melontarkan tanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Bukan manusia lagi tapi Dryad?” lanjutnya.
“Ya. Akan sama sepertiku meski kau bukan tercipta oleh intisari jiwa-jiwa penghuni hutan. Setelah kubagi kekuatanku padamu, nyawa dan kekuatanmu akan bergantung dari berapa banyak jumlah tumbuhan yang hidup di sini.” Kaki Krystal melayang. Tak lagi menapaki tanah. Tubuhnya sudah sejajar dengan Kris yang sebelumnya lebih tinggi beberapa senti dari Krystal. Dilingkarkan kedua tangan berkulit pucat itu ke seputar leher Kris. “Kau siap sekarang?”
“Tentu.” Kris tersenyum lembut seraya melingkarkan lengan kekarnya ke pinggang Krystal.
“Pejamkan matamu,” perintah Krystal dan Kris pun melakukannya.
Tiba-tiba berpendarlah sinar berwarna biru itu begitu dahi yang terdapat manik kristal menempel lekat di dahi Kris. Kristal berwarna biru tosca itu mengalirkan kekuatan pelahan. Membuat tubuh Kris serasa seperti di sengat listrik berdaya rendah.
“Kubagikan kekuatanku dan kehidupan abadiku, padamu. Kau adalah milik hutan ini sekarang,” bisik Krystal. Begitu dia terdiam, pendaran cahaya biru itu meredup dan akhirnya menghilang.
Terdengar gemerisik dedaunan yang ditiup angin sepoi yang tak terlalu kencang. Begitu pula dengan kicauan burung dan suara-suara binatang penghuni hutan lain bersahutan begitu riuh. Seolah tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang hidup di hutan ini sudah merestui menyatunya eksistesi Kris yang resmi menjadi bagian dari mereka. Telinganya pun seolah mendengar banyak suara yang mengatakan, ‘selamat datang’. Kris juga merasa ada sesuatu yang menelusupi dahinya. Ya. Kini Kris mempunyai Kristal di dahi sama seperti milik Dryad cantik di hadapannya itu.
Bibirnya mengulas senyum mendengar ucapan selamat dari semua penghuni hutan Amethyst. Dia pun membungkuk 90 derajat sambil berkata, “Terima kasih sudah menerimaku.” Setelahnya dia memeluk erat Krystal lalu menciumnya. “Aku bersumpah akan selalu di sisimu. Aku mencintaimu, Krystal,” ucapnya setelah tautan itu terlepas.
“Aku juga.” Krystal membalas dan mereka kembali berciuman.
