Oh Tuhan, pria itu sangat tampan. Wajahnya mengingatkanku pada seorang pangeran di negeri dongeng. Jangan bermimpi, Samantha. Kau hanyalah seorang gadis miskin penjual tiket bioskop, batinku dalam hati. Apakah Dia cinta sejatiku?
Hujan turun begitu derasnya di malam bulan Desember itu. Begitu banyak kaleng kosong berserakan di lantai rumah Kami untuk menampung curah air yang jatuh dari atap rumah Kami yang hanya memiliki satu buah kamar tersebut. "Sam, jangan lupa siapkan makan malam untuk adikmu. Ibu punya sedikit keju dan roti untuk Kalian berdua" ujar Ibu sambil mengambil sebuah payung yang tergantung di belakang pintu. "Aku tidak lapar, sebaiknya Ibu makan saja dulu sebelum berangkat" tukasku. "Jangan pikirkan diriku. Ibu akan makan di tempat kerja saja" jawabnya sambil mendaratkan sebuah kecupan dikeningku. "Oh Sam, mumpung Kau sedang libur bekerja, tolong Kau antarkan surat ini kepada Tuan Harris. Mungkin bulan ini Ibu akan menunggak lagi uang sewa rumah dan semoga Tuan Harris bisa mengerti" perintah Ibu. "Baik, Bu. Aku akan antar surat itu setelah hujan reda" ujarku dengan kedua tangan sibuk menyiapkan piring untuk makan malam. "Rob, cepat keluar kamar. Kita makan sekarang" tukasku berteriak memanggil Rob, adik laki-lakiku satu-satunya. "Oh pasti roti kering dan keju lagi ya" sahut Rob yang bergegas menuju meja makan. "Ya, celup saja rotimu ke dalam susu agar lembut" saranku. "Anak-anak Ibu berangkat sekarang" ujar Ibu kepada Kami. Ya inilah kehidupanku sehari-hari. Ibu bekerja di sebuah restoran kecil di jalan Santa Hannah tak jauh dari rumah kontrakan Kami di sebuah kota kecil di Alabama. Pemukiman padat penduduk yang ramai dengan para pendatang dari banyak luar kota karena disini memang terkenal dengan banyak apartemen dan rumah kontrakan yang terbilang murah. Adikku, Rob masih berusia 18 tahun dan sebentar lagi akan menyelesaikan SMU nya di Alabama Hill High School. Namaku Samantha Ruppert. Aku adalah gadis berusia 22 tahun dan sekarang hanya bekerja sebagai penjaga tiket bioskop di Rocket Hall Theater dengan gaji yang biasa saja tapi lumayan untuk membantu Ibu agar Kami tidak kelaparan. Jangan tanya keinginanku untuk bisa kuliah karena sungguh Aku sangat ingin melanjutkan pendidikanku tapi keadaan Kami tidak memungkinkan semenjak Ayah meninggal dunia akibat kecelakaan di tempat kerjanya beberapa tahun lalu.
"Oh Tuhan, lagi-lagi Kalian menunggak uang sewa rumah. Jika begini terus usaha ku bisa gulung tikar. Belum lagi biaya air, listrik dan pemeliharaan rumah juga belum Kalian bayar" tukas Tuan Harris saat Aku mengantarkan surat itu kepadanya. "Aku berjanji akan melunasinya akhir bulan ini, Tuan Harris" ujarku. "Ya sudah pergi sana" jawab Tuan Harris dengan nada tinggi.
Oh Tuhan, tampan sekali pria itu. Rambutnya yang pirang dengan matanya yang biru mengingatkanku pada sosok pangeran di negeri dongeng di cerita yang kubaca saat kecil. Ia tampak menggandeng tangan seorang gadis cantik berperawakan langsing, berambut cokelat bergelombang dengan kulit putih halus bak pualam. Ah, jangan bermimpi untuk bisa berkenalan dengan pria itu. Aku hanya seorang gadis penjual tiket bioskop dengan penampilan yang sangat tidak terawat. Ibu selalu bilang kalau Aku adalah gadis paling cantik di seluruh kota. Rambutku yang pirang sebahu, mataku yang cokelat dan postur tubuhku yang tinggi memang cukup menarik. Tapi ya tentu saja Aku tidak memiliki uang cukup untuk merawat diriku dan penampilanku. Asalkan Kami sekeluarga bisa makan saja itu sudah lebih dari cukup. "Nona, tolong tiketnya dua buah untuk teater 1 dan Aku minta kursi di bagian tengah" ujar pria tampan tadi yang mengagetkanku yang sedang termenung dan berkhayal tentang indahnya menjadi seorang putri cantik yang diselamatkan oleh seorang pangeran tampan berkuda putih. "Oh oh ini tiket yang Engkau minta" jawabku dengan gugup dan salah tingkah. Senyumnya sangat menawan ketika mengucapkan kata terima kasih. Oh semoga Aku bisa berjumpa dan mengobrol dengannya suatu hari nanti. Hari berlalu dengan cepat. Kami bisa melunasi tunggakan uang sewa rumah itu dengan gajiku. Dia lagi dengan si gadis cantik itu. Sungguh keduanya membuatku sedikit cemburu yang tak beralasan. Aku memang kerap bertemu pria itu biasanya di akhir pekan ketika Ia dan pacarnya ingin menikmati film di gedung teater tempatku bekerja. Sungguh pasangan yang sangat serasi dan semoga Mereka tetap bersama untuk selamanya.
"Ibu tadi di sekolah Aku bertengkar dan berkelahi lagi dengan Simon Evereth karena Dia terus mengolok-olok Aku dengan sebutan si anak aneh dan kumal" lapor Rob suatu siang di hari Minggu yang cerah. "Ibu sudah bilang berkali-kali kepadamu untuk tidak ambil pusing dengan semua komentar dan ejekan teman-temanmu di sekolah" ujar Ibu sambil melipat baju yang telah kering setelah dijemur berhari-hari karena cuaca mendung. Aku tampak asyik membaca novel kegemaranku sambil membayangkan wajah si tampan itu. Ya lumayanlah Aku masih punya beberapa jam lagi untuk bersantai sebelum berangkat kerja nanti malam. Fiuuh, dengan sedikit rasa malas kulangkahkan kaki keluar rumah menuju halte bus terdekat agar tidak terlambat sampai ke tempat kerja. Ya biasanya akhir pekan seperti ini si pangeran tampan akan datang berkunjung ke bioskop bersama kekasihnya tersebut. Ya setidaknya Aku masih bisa melihat dan mengaggumi wajah tampannya itu. Sreeeet, pintu bus terbuka dan Aku segera loncat mencari kursi kosong. Jarak antara rumahku dan tempatku bekerja di pusat kota hanya sekitar setengah jam saja. Mataku sempat menahan kantuk mungkin cuaca mendung di petang ini sangat cocok untuk bersantai saja di rumah selama akhir pekan. Suasana jalanan kota tampak ramai seperti biasanya. Aku mengenakan mantel panjang sebatas lutut untuk menahan udara dingin yang kian menusuk. Aku dan beberapa pejalan kaki tampak waspada ketika bersiap menyeberangi jalan di lalu lintas malam yang cukup ramai. Lampu-lampu neon di atas gedung-gedung tampak indah seperti kunang-kunang di malam hari. "Syukurlah Kau sudah datang. Aku harus segera pergi karena ada acara makan malam dengan pacar baruku" ujar Stella, rekan kerjaku sesama penjaga loket. Tampaknya Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kekasih barunya. Ia memang sudah merencanakan hari ini akan mengambil shift kerja pagi agar bisa pulang awal dan menikmati kencan di malam harinya. Ah, andaikan Aku juga memiliki pacar, harapku dalam hati. Aku berganti seragam dan bersiap untuk menuju loket karena film akan dimulai setengah jam lagi. "Hai nona, Aku pesan dua tiket seperti biasa untuk teater tiga" senyumnya yang manis saat memberikan selembar uang kepadaku sempat membuatku hampir terjatuh karena salah tingkah lagi. "Oh oh ini tiket dan uang kembalianmu" jawabku gugup ketika melihat matanya yang tajam serta alisnya yang tebal itu. Aku hanya terpana melihat betap sayangnya Ia kepada sang kekasihnya, dari caranya melindungi si gadis dari beberapa anak muda yang berlarian di dalam gedung bioskop. Sosok keduanya hilang di kejauhan pintu teater tiga tersebut. Mataku tiba-tiba terperanjat melihat sebuah dompet hitam tebal berisi banyak lembaran uang kertas didalamnya. Aku segera mengambilnya dan memeriksa apakah ada kartu identitas agar Aku bisa segera mengembalikan kepada sang pemiliknya. Aku lagi-lagi terpana menemukan sebuah kartu identitas dengan foto si tampan itu. Oh namanya adalah Nicholas Harvey. Sebuah nama yang indah. Untung saja tiket sudah habis terjual dan Aku segera menutup loket untuk bergegas ke teater tiga untuk mengembalikan dompet milik Nicholas. Lampu teater belum dimatikan karena memang film belum diputar sehingga Aku bisa dengan mudah menemukannya di bangku tengah tempat Ia biasa duduk bersama kekasihnya. "Oh maaf, Aku tak sengaja menemukan dompetmu di meja loket tadi dan melihat kartu identitas agar tahu siapa pemiliknya untuk supaya Aku bisa dengan mudah menemukan pemiliknya. Semoga tidak ada yang hilang" ujarku. "Wah syukurlah. Terima kasih banyak ya. Namamu siapa?" tanya Nicholas. "Oh namaku Samantha Ruppert" jawabku dengan hati yang berbunga-bunga. Bahagianya akhirnya Tuhan mengijinkanku untuk mengenalnya. Aku menghabiskan sisa waktu kerjaku malam itu dengan menonton film yang diputar dengan puluhan pengunjung bioskop, tapi bedanya Aku hanya diperbolehkan duduk di tangga sisi teater. Aku tersenyum sepanjang malam itu.
Aku termenung sambil menunggu pengunjung yang datang untuk membeli tiket di dalam sebuah loket yang sempit ini. Tanganku menopang dagu dengan jariku mengetuk meja berkali-kali. Ini sudah minggu kelima Nicholas tidak menampakan batang hidungnya. Semoga Ia baik-baik saja. Malam ini suasana teater sungguh sepi hanya bebrapa pengunjung saja yang datang untuk menyaksikan film terbaru. Dari kejauhan kulihat sosok yang sangat kukenal berjalan menuju loket. Ya, itu Nicholas. Oh Tuhan, semoga penampilanku tidak berantakan kali ini. Aku merapihkan rambutku dengan jari dan mulai menarik napas panjang. "Hai, Samantha. Apa kabar?" tanyanya kepadaku."Oh Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu dan dimana teman wanitamu?" ujarku. "Semua berjalan baik. Aku kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi kepadamu. Mungkin nyawa Ibuku tidak akan terselamatkan jika Aku kehilangan uang gajiku yang waktu itu baru saja Aku ambil dari mesin ATM" sahutnya. '"Memang ada apa dengan Ibumu?" tanyaku penasaran. "Ibu baru saja kecelakaan saat Ia mengendarai mobil ketika pulang berbelanja di supermarket tak jauh dari jalan Washington Street dan segera mendapat perawatan intensif di rumah sakit Alabama Center Health, makanya Aku ambil tabunganku untuk membayar biaya rumah sakit itu. Untungnya keadaan kritis sudah lewat meskipun sekarang Ia masih dirawat karena pendarahan itu membuatnya kekurangan darah. Aku beberapa hari ini sibuk mencari darah dengan golongan darah yang sama seperti Ibu tapi tampaknya jenis golongan darah Ibu sangat langka dan mahal jika itupun ada" jawab Nicholas. "Apa jenis golongan darah Ibumu, Nic?" tanyaku. "Golongan AB dan tinggal sedikit lagi jumlah darah yang kubutuhkan agar Ibu bisa keluar dari rumah sakit" jawabnya. "Oh jika Kau sudah selesai bekerja mungkin bisa menemaniku minum kopi sambil ngobrol di kedai kopi di seberang jalan" pintanya. "Ya Aku sudah boleh pulang sepuluh menit lagi" jawabku yang seakan tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengobrol dengannya. Malam indah itu Kami habiskan dengan mengobrol dan Aku tahu ini saat tersulit bagi Nic karena bukan saja Ibunya yang mengalami musibah, tapi Ia baru saja putus dari kekasihnya yang tertangkap basah berselingkuh dengan Bosnya di tempat gadis itu bekerja. Nic adalah anak bungsu. Dua kakak perempuannya sudah menikah dan memiliki anak. Nic berusia 27 tahun dan harus meninggalkan apartemennya untuk sementara karena terpaksa menjaga rumah sang Ibu selama Ibunya dirawat di rumah sakit. Kami bertukar nomer telepon sebelum berpisah saat Nic mengantarkanku pulang dengan mobil Jip bututnya. Aku bahagia sekali karena Tuhan selalu mendengar doaku.
Siang itu beberapa hari setelah Kami terakhir berjumpa, Aku baru saja ingat bahwa Ibu pernah bilang kepada Ayah kalau Aku memiliki jenis golongan darah yang unik dan langka. Aku tak menunggu waktu lama dan segera menemui Ibu yang tengah mencuci pakaian di ruang bawah tanah apartemen Kami. Jawaban Ibu merupakan kunci dari segalanya. Aku berteriak memanggil Ibu dengan penuh rasa was-was berharap golongan darahku dan golongan darah Ibu Nic sama. "Bu, Aku hanya ingin bertanya satu hal penting. Apakah Ibu masih ingat golongan darahku apa?" tanyaku dengan nafas tersengal-sengal karena berlari menuruni tangga. "Setahu Ibu Ayah pernah bilang juga bahwa golongan darahmu itu AB" jawabnya dengan kening berkerut seakan tengah berpikir keras mengingat sesuatu hal sambil tangannya tetap sibuk menjemur pakaian. Aku langsung mencium pipi Ibu dan lari menuju kamarku untuk menghubungi Nic. "Halo Nic, Aku ada kabar gembira ternyata golongan darahku dan Ibumu sama. Ayo cepat jemput Aku dan kita pergi ke rumah sakit sekarang" ujarku kegirangan. Nicholas bukan main senangnya mendengar kabar itu dan segera menjemputku. Aroma khas rumah sakit sungguh membuatku mual ketika seorang perawat tua mengambil darahku. Rasa sakit itu tak kurasakan karena tergantikan rasa bahagia karena bisa membahagiakan Nicholas. "Tampaknya Aku akan terus berterima kasih untuk kesekian kalinya kepadamu, Sam" ujar Nic dengan mata berbinar. Aku yang tengah bahagia sungguh haru ketika melihat Nic mencium kening Ibunya yang tengah tertidur di kamar rumah sakit. "Selamat Nic, sebentar lagi Kau bisa mengajaknya pulang" bisikku yang diikuti dengan senyumnya yang menawan. Sebulan berlalu dan Ibunda Nic sudah sangat sehat dari terakhir kali Aku menemuinya di rumah sakit. Bahkan, Nic dan Ibunya sempat mengajakku makan malam di kediaman mereka saat Thanksgiving kemarin. Aku ingat Kami bertiga tertawa saat di meja makan ketika Aku menceritakan pengalaman bodohku ketika salah menjual tiket bioskop kepada seorang remaja tahun kemarin dan Aku memberikan tiket film dewasa kepada anak tanggung itu. Ah, bahagianya dan disinilah Aku masih tetap si gadis penjual tiket itu. Duduk termenung setiap malam di loket kecil ini. Aku tak pernah berharap mengubah persahabatanku dengan Nic dan jujur lagipula mana mungkin Ia jatuh cinta kepadaku. Ya sudahlah. Aku harus pulang karena Ibu dan Rob sudah menungguku di rumah. Aku mampir sebentar di The Tony's untuk membeli beberapa potong burger dan kentang goreng untuk makan malam Kami. Suasana malam yang dingin berangin sungguh membuat tubuhku menggigil dan ingin segera sampai di rumah. "Ayo cepat, nona. Ini bus terakhir malam ini" teriak sang supir saat pintu bus terbuka. Aku hampir saja tertidur tapi untungnya pria negro yang menyetir bus tersebut segera berkata kepadaku bahwa ini halte tempat Aku biasa turun. Aku langsung loncat dan mengucapkan terima kasih kepada supir tersebut. "Malam, Sam" ujar Nyonya Lauren, tetanggaku seorang wanita tua yang hidup bersama belasan kucingnya. "Ya malam juga, Nyonya Lauren" jawabku memasuki pintu rumah flat Kami yang sedikit kumuh. Dari kejauhan pintu rumah, Aku mendengar suara tawa Ibu, Rob dan suara seorang pria dari arah dalam rumahku. Kreeek, pintu rumah kubuka dan seketika mataku tak percaya dengan apa yang Aku lihat. Nic sedang menikmati makan malam bersama Ibu dan Rob. "Hey Sam, akhirnya Kau sampai juga. Ini ada Nicholas sengaja datang jauh-jauh untuk menemuimu, dan lihat Nic juga membawa makan malam yang lezat buat Kita" ujar Ibu. Aku hanya melongo tak percaya dengan ini semua. "Kemarilah, Sam" ujar Nic. Kami menikmati malam itu dengan makan bersama di meja makan Kami yang kecil. Ibu dan Rob kemudian pamit untuk beristirahat. "Sam, Aku kesini untuk memberikanmu ini dan ingin menyatakan perasaanku kepadamu bahwa Aku jatuh cinta dengan semua ketulusanmu. Semoga Kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu" pinta Nic kepadaku. Aku hampir mau menangis melihat semua ini. Semua begitu sempurna. Nic mencintaiku apa adanya sama sepertiku. Kami pun hampir seakan tak pernah dipisahkan satu sama lain sejak saat itu. Kalian pasti bertanya-tanya dimana si gadis penjual tiket itu. Ya disinilah Aku mengenakan gaun pengantin cantik berwarna putih. Aku tengah bersiap-siap melempar buket bunga kecil ke arah para tamu undangan yang hadir di pesta pernikahanku bersama Nic. Kami hidup bahagia di sebuah rumah cantik. Nic juga membelikan sebuah rumah kecil yang asri untuk Ibu dan Rob. Setiap malam minggu, Aku dan Nic tak pernah absen pergi nonton ke bioskop, namun bedanya kini Aku tidak perlu lagi berada di dalam loket itu menanti sang pangeran tampan. Kami tengah menanti kelahiran anak pertama Kami. Aku si gadis pemimpi itu.
Hujan turun begitu derasnya di malam bulan Desember itu. Begitu banyak kaleng kosong berserakan di lantai rumah Kami untuk menampung curah air yang jatuh dari atap rumah Kami yang hanya memiliki satu buah kamar tersebut. "Sam, jangan lupa siapkan makan malam untuk adikmu. Ibu punya sedikit keju dan roti untuk Kalian berdua" ujar Ibu sambil mengambil sebuah payung yang tergantung di belakang pintu. "Aku tidak lapar, sebaiknya Ibu makan saja dulu sebelum berangkat" tukasku. "Jangan pikirkan diriku. Ibu akan makan di tempat kerja saja" jawabnya sambil mendaratkan sebuah kecupan dikeningku. "Oh Sam, mumpung Kau sedang libur bekerja, tolong Kau antarkan surat ini kepada Tuan Harris. Mungkin bulan ini Ibu akan menunggak lagi uang sewa rumah dan semoga Tuan Harris bisa mengerti" perintah Ibu. "Baik, Bu. Aku akan antar surat itu setelah hujan reda" ujarku dengan kedua tangan sibuk menyiapkan piring untuk makan malam. "Rob, cepat keluar kamar. Kita makan sekarang" tukasku berteriak memanggil Rob, adik laki-lakiku satu-satunya. "Oh pasti roti kering dan keju lagi ya" sahut Rob yang bergegas menuju meja makan. "Ya, celup saja rotimu ke dalam susu agar lembut" saranku. "Anak-anak Ibu berangkat sekarang" ujar Ibu kepada Kami. Ya inilah kehidupanku sehari-hari. Ibu bekerja di sebuah restoran kecil di jalan Santa Hannah tak jauh dari rumah kontrakan Kami di sebuah kota kecil di Alabama. Pemukiman padat penduduk yang ramai dengan para pendatang dari banyak luar kota karena disini memang terkenal dengan banyak apartemen dan rumah kontrakan yang terbilang murah. Adikku, Rob masih berusia 18 tahun dan sebentar lagi akan menyelesaikan SMU nya di Alabama Hill High School. Namaku Samantha Ruppert. Aku adalah gadis berusia 22 tahun dan sekarang hanya bekerja sebagai penjaga tiket bioskop di Rocket Hall Theater dengan gaji yang biasa saja tapi lumayan untuk membantu Ibu agar Kami tidak kelaparan. Jangan tanya keinginanku untuk bisa kuliah karena sungguh Aku sangat ingin melanjutkan pendidikanku tapi keadaan Kami tidak memungkinkan semenjak Ayah meninggal dunia akibat kecelakaan di tempat kerjanya beberapa tahun lalu.
"Oh Tuhan, lagi-lagi Kalian menunggak uang sewa rumah. Jika begini terus usaha ku bisa gulung tikar. Belum lagi biaya air, listrik dan pemeliharaan rumah juga belum Kalian bayar" tukas Tuan Harris saat Aku mengantarkan surat itu kepadanya. "Aku berjanji akan melunasinya akhir bulan ini, Tuan Harris" ujarku. "Ya sudah pergi sana" jawab Tuan Harris dengan nada tinggi.
Oh Tuhan, tampan sekali pria itu. Rambutnya yang pirang dengan matanya yang biru mengingatkanku pada sosok pangeran di negeri dongeng di cerita yang kubaca saat kecil. Ia tampak menggandeng tangan seorang gadis cantik berperawakan langsing, berambut cokelat bergelombang dengan kulit putih halus bak pualam. Ah, jangan bermimpi untuk bisa berkenalan dengan pria itu. Aku hanya seorang gadis penjual tiket bioskop dengan penampilan yang sangat tidak terawat. Ibu selalu bilang kalau Aku adalah gadis paling cantik di seluruh kota. Rambutku yang pirang sebahu, mataku yang cokelat dan postur tubuhku yang tinggi memang cukup menarik. Tapi ya tentu saja Aku tidak memiliki uang cukup untuk merawat diriku dan penampilanku. Asalkan Kami sekeluarga bisa makan saja itu sudah lebih dari cukup. "Nona, tolong tiketnya dua buah untuk teater 1 dan Aku minta kursi di bagian tengah" ujar pria tampan tadi yang mengagetkanku yang sedang termenung dan berkhayal tentang indahnya menjadi seorang putri cantik yang diselamatkan oleh seorang pangeran tampan berkuda putih. "Oh oh ini tiket yang Engkau minta" jawabku dengan gugup dan salah tingkah. Senyumnya sangat menawan ketika mengucapkan kata terima kasih. Oh semoga Aku bisa berjumpa dan mengobrol dengannya suatu hari nanti. Hari berlalu dengan cepat. Kami bisa melunasi tunggakan uang sewa rumah itu dengan gajiku. Dia lagi dengan si gadis cantik itu. Sungguh keduanya membuatku sedikit cemburu yang tak beralasan. Aku memang kerap bertemu pria itu biasanya di akhir pekan ketika Ia dan pacarnya ingin menikmati film di gedung teater tempatku bekerja. Sungguh pasangan yang sangat serasi dan semoga Mereka tetap bersama untuk selamanya.
"Ibu tadi di sekolah Aku bertengkar dan berkelahi lagi dengan Simon Evereth karena Dia terus mengolok-olok Aku dengan sebutan si anak aneh dan kumal" lapor Rob suatu siang di hari Minggu yang cerah. "Ibu sudah bilang berkali-kali kepadamu untuk tidak ambil pusing dengan semua komentar dan ejekan teman-temanmu di sekolah" ujar Ibu sambil melipat baju yang telah kering setelah dijemur berhari-hari karena cuaca mendung. Aku tampak asyik membaca novel kegemaranku sambil membayangkan wajah si tampan itu. Ya lumayanlah Aku masih punya beberapa jam lagi untuk bersantai sebelum berangkat kerja nanti malam. Fiuuh, dengan sedikit rasa malas kulangkahkan kaki keluar rumah menuju halte bus terdekat agar tidak terlambat sampai ke tempat kerja. Ya biasanya akhir pekan seperti ini si pangeran tampan akan datang berkunjung ke bioskop bersama kekasihnya tersebut. Ya setidaknya Aku masih bisa melihat dan mengaggumi wajah tampannya itu. Sreeeet, pintu bus terbuka dan Aku segera loncat mencari kursi kosong. Jarak antara rumahku dan tempatku bekerja di pusat kota hanya sekitar setengah jam saja. Mataku sempat menahan kantuk mungkin cuaca mendung di petang ini sangat cocok untuk bersantai saja di rumah selama akhir pekan. Suasana jalanan kota tampak ramai seperti biasanya. Aku mengenakan mantel panjang sebatas lutut untuk menahan udara dingin yang kian menusuk. Aku dan beberapa pejalan kaki tampak waspada ketika bersiap menyeberangi jalan di lalu lintas malam yang cukup ramai. Lampu-lampu neon di atas gedung-gedung tampak indah seperti kunang-kunang di malam hari. "Syukurlah Kau sudah datang. Aku harus segera pergi karena ada acara makan malam dengan pacar baruku" ujar Stella, rekan kerjaku sesama penjaga loket. Tampaknya Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kekasih barunya. Ia memang sudah merencanakan hari ini akan mengambil shift kerja pagi agar bisa pulang awal dan menikmati kencan di malam harinya. Ah, andaikan Aku juga memiliki pacar, harapku dalam hati. Aku berganti seragam dan bersiap untuk menuju loket karena film akan dimulai setengah jam lagi. "Hai nona, Aku pesan dua tiket seperti biasa untuk teater tiga" senyumnya yang manis saat memberikan selembar uang kepadaku sempat membuatku hampir terjatuh karena salah tingkah lagi. "Oh oh ini tiket dan uang kembalianmu" jawabku gugup ketika melihat matanya yang tajam serta alisnya yang tebal itu. Aku hanya terpana melihat betap sayangnya Ia kepada sang kekasihnya, dari caranya melindungi si gadis dari beberapa anak muda yang berlarian di dalam gedung bioskop. Sosok keduanya hilang di kejauhan pintu teater tiga tersebut. Mataku tiba-tiba terperanjat melihat sebuah dompet hitam tebal berisi banyak lembaran uang kertas didalamnya. Aku segera mengambilnya dan memeriksa apakah ada kartu identitas agar Aku bisa segera mengembalikan kepada sang pemiliknya. Aku lagi-lagi terpana menemukan sebuah kartu identitas dengan foto si tampan itu. Oh namanya adalah Nicholas Harvey. Sebuah nama yang indah. Untung saja tiket sudah habis terjual dan Aku segera menutup loket untuk bergegas ke teater tiga untuk mengembalikan dompet milik Nicholas. Lampu teater belum dimatikan karena memang film belum diputar sehingga Aku bisa dengan mudah menemukannya di bangku tengah tempat Ia biasa duduk bersama kekasihnya. "Oh maaf, Aku tak sengaja menemukan dompetmu di meja loket tadi dan melihat kartu identitas agar tahu siapa pemiliknya untuk supaya Aku bisa dengan mudah menemukan pemiliknya. Semoga tidak ada yang hilang" ujarku. "Wah syukurlah. Terima kasih banyak ya. Namamu siapa?" tanya Nicholas. "Oh namaku Samantha Ruppert" jawabku dengan hati yang berbunga-bunga. Bahagianya akhirnya Tuhan mengijinkanku untuk mengenalnya. Aku menghabiskan sisa waktu kerjaku malam itu dengan menonton film yang diputar dengan puluhan pengunjung bioskop, tapi bedanya Aku hanya diperbolehkan duduk di tangga sisi teater. Aku tersenyum sepanjang malam itu.
Aku termenung sambil menunggu pengunjung yang datang untuk membeli tiket di dalam sebuah loket yang sempit ini. Tanganku menopang dagu dengan jariku mengetuk meja berkali-kali. Ini sudah minggu kelima Nicholas tidak menampakan batang hidungnya. Semoga Ia baik-baik saja. Malam ini suasana teater sungguh sepi hanya bebrapa pengunjung saja yang datang untuk menyaksikan film terbaru. Dari kejauhan kulihat sosok yang sangat kukenal berjalan menuju loket. Ya, itu Nicholas. Oh Tuhan, semoga penampilanku tidak berantakan kali ini. Aku merapihkan rambutku dengan jari dan mulai menarik napas panjang. "Hai, Samantha. Apa kabar?" tanyanya kepadaku."Oh Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaanmu dan dimana teman wanitamu?" ujarku. "Semua berjalan baik. Aku kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi kepadamu. Mungkin nyawa Ibuku tidak akan terselamatkan jika Aku kehilangan uang gajiku yang waktu itu baru saja Aku ambil dari mesin ATM" sahutnya. '"Memang ada apa dengan Ibumu?" tanyaku penasaran. "Ibu baru saja kecelakaan saat Ia mengendarai mobil ketika pulang berbelanja di supermarket tak jauh dari jalan Washington Street dan segera mendapat perawatan intensif di rumah sakit Alabama Center Health, makanya Aku ambil tabunganku untuk membayar biaya rumah sakit itu. Untungnya keadaan kritis sudah lewat meskipun sekarang Ia masih dirawat karena pendarahan itu membuatnya kekurangan darah. Aku beberapa hari ini sibuk mencari darah dengan golongan darah yang sama seperti Ibu tapi tampaknya jenis golongan darah Ibu sangat langka dan mahal jika itupun ada" jawab Nicholas. "Apa jenis golongan darah Ibumu, Nic?" tanyaku. "Golongan AB dan tinggal sedikit lagi jumlah darah yang kubutuhkan agar Ibu bisa keluar dari rumah sakit" jawabnya. "Oh jika Kau sudah selesai bekerja mungkin bisa menemaniku minum kopi sambil ngobrol di kedai kopi di seberang jalan" pintanya. "Ya Aku sudah boleh pulang sepuluh menit lagi" jawabku yang seakan tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengobrol dengannya. Malam indah itu Kami habiskan dengan mengobrol dan Aku tahu ini saat tersulit bagi Nic karena bukan saja Ibunya yang mengalami musibah, tapi Ia baru saja putus dari kekasihnya yang tertangkap basah berselingkuh dengan Bosnya di tempat gadis itu bekerja. Nic adalah anak bungsu. Dua kakak perempuannya sudah menikah dan memiliki anak. Nic berusia 27 tahun dan harus meninggalkan apartemennya untuk sementara karena terpaksa menjaga rumah sang Ibu selama Ibunya dirawat di rumah sakit. Kami bertukar nomer telepon sebelum berpisah saat Nic mengantarkanku pulang dengan mobil Jip bututnya. Aku bahagia sekali karena Tuhan selalu mendengar doaku.
Siang itu beberapa hari setelah Kami terakhir berjumpa, Aku baru saja ingat bahwa Ibu pernah bilang kepada Ayah kalau Aku memiliki jenis golongan darah yang unik dan langka. Aku tak menunggu waktu lama dan segera menemui Ibu yang tengah mencuci pakaian di ruang bawah tanah apartemen Kami. Jawaban Ibu merupakan kunci dari segalanya. Aku berteriak memanggil Ibu dengan penuh rasa was-was berharap golongan darahku dan golongan darah Ibu Nic sama. "Bu, Aku hanya ingin bertanya satu hal penting. Apakah Ibu masih ingat golongan darahku apa?" tanyaku dengan nafas tersengal-sengal karena berlari menuruni tangga. "Setahu Ibu Ayah pernah bilang juga bahwa golongan darahmu itu AB" jawabnya dengan kening berkerut seakan tengah berpikir keras mengingat sesuatu hal sambil tangannya tetap sibuk menjemur pakaian. Aku langsung mencium pipi Ibu dan lari menuju kamarku untuk menghubungi Nic. "Halo Nic, Aku ada kabar gembira ternyata golongan darahku dan Ibumu sama. Ayo cepat jemput Aku dan kita pergi ke rumah sakit sekarang" ujarku kegirangan. Nicholas bukan main senangnya mendengar kabar itu dan segera menjemputku. Aroma khas rumah sakit sungguh membuatku mual ketika seorang perawat tua mengambil darahku. Rasa sakit itu tak kurasakan karena tergantikan rasa bahagia karena bisa membahagiakan Nicholas. "Tampaknya Aku akan terus berterima kasih untuk kesekian kalinya kepadamu, Sam" ujar Nic dengan mata berbinar. Aku yang tengah bahagia sungguh haru ketika melihat Nic mencium kening Ibunya yang tengah tertidur di kamar rumah sakit. "Selamat Nic, sebentar lagi Kau bisa mengajaknya pulang" bisikku yang diikuti dengan senyumnya yang menawan. Sebulan berlalu dan Ibunda Nic sudah sangat sehat dari terakhir kali Aku menemuinya di rumah sakit. Bahkan, Nic dan Ibunya sempat mengajakku makan malam di kediaman mereka saat Thanksgiving kemarin. Aku ingat Kami bertiga tertawa saat di meja makan ketika Aku menceritakan pengalaman bodohku ketika salah menjual tiket bioskop kepada seorang remaja tahun kemarin dan Aku memberikan tiket film dewasa kepada anak tanggung itu. Ah, bahagianya dan disinilah Aku masih tetap si gadis penjual tiket itu. Duduk termenung setiap malam di loket kecil ini. Aku tak pernah berharap mengubah persahabatanku dengan Nic dan jujur lagipula mana mungkin Ia jatuh cinta kepadaku. Ya sudahlah. Aku harus pulang karena Ibu dan Rob sudah menungguku di rumah. Aku mampir sebentar di The Tony's untuk membeli beberapa potong burger dan kentang goreng untuk makan malam Kami. Suasana malam yang dingin berangin sungguh membuat tubuhku menggigil dan ingin segera sampai di rumah. "Ayo cepat, nona. Ini bus terakhir malam ini" teriak sang supir saat pintu bus terbuka. Aku hampir saja tertidur tapi untungnya pria negro yang menyetir bus tersebut segera berkata kepadaku bahwa ini halte tempat Aku biasa turun. Aku langsung loncat dan mengucapkan terima kasih kepada supir tersebut. "Malam, Sam" ujar Nyonya Lauren, tetanggaku seorang wanita tua yang hidup bersama belasan kucingnya. "Ya malam juga, Nyonya Lauren" jawabku memasuki pintu rumah flat Kami yang sedikit kumuh. Dari kejauhan pintu rumah, Aku mendengar suara tawa Ibu, Rob dan suara seorang pria dari arah dalam rumahku. Kreeek, pintu rumah kubuka dan seketika mataku tak percaya dengan apa yang Aku lihat. Nic sedang menikmati makan malam bersama Ibu dan Rob. "Hey Sam, akhirnya Kau sampai juga. Ini ada Nicholas sengaja datang jauh-jauh untuk menemuimu, dan lihat Nic juga membawa makan malam yang lezat buat Kita" ujar Ibu. Aku hanya melongo tak percaya dengan ini semua. "Kemarilah, Sam" ujar Nic. Kami menikmati malam itu dengan makan bersama di meja makan Kami yang kecil. Ibu dan Rob kemudian pamit untuk beristirahat. "Sam, Aku kesini untuk memberikanmu ini dan ingin menyatakan perasaanku kepadamu bahwa Aku jatuh cinta dengan semua ketulusanmu. Semoga Kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu" pinta Nic kepadaku. Aku hampir mau menangis melihat semua ini. Semua begitu sempurna. Nic mencintaiku apa adanya sama sepertiku. Kami pun hampir seakan tak pernah dipisahkan satu sama lain sejak saat itu. Kalian pasti bertanya-tanya dimana si gadis penjual tiket itu. Ya disinilah Aku mengenakan gaun pengantin cantik berwarna putih. Aku tengah bersiap-siap melempar buket bunga kecil ke arah para tamu undangan yang hadir di pesta pernikahanku bersama Nic. Kami hidup bahagia di sebuah rumah cantik. Nic juga membelikan sebuah rumah kecil yang asri untuk Ibu dan Rob. Setiap malam minggu, Aku dan Nic tak pernah absen pergi nonton ke bioskop, namun bedanya kini Aku tidak perlu lagi berada di dalam loket itu menanti sang pangeran tampan. Kami tengah menanti kelahiran anak pertama Kami. Aku si gadis pemimpi itu.
