Kamis, 09 Januari 2014

Re post cerpen teman

Aku berdiri disini. Terdiam. Menatap datar lantai yang tergenang cairan merah kental dan berbau anyir ini. Meletakkan setangkai bunga lily putih, dan segera pergi dari tempat ini.
Mungkin beberapa dari kalian bertanya, ‘Apa yang kau lakukan?’. Maka aku akan menjawab, ‘Hanya menghilangkan rasa bosanku.’
Hal inilah yang kusukai. Memandang hal yang disukai sangat menyenangkan bukan? Hanya saja, aku tak suka mengatakan kepada kalian hal apa yang kusukai.
--oO0Oo--
Tap…
Tap…
Tap…
Tampaknya hanya aku yang berjalan di koridor ini. Aku menatap pintu sebuah kamar bernomor 13. 13, angka sial.
Malam ini, aku akan melakukan hobiku.
 Hobi yang menurutku menyenangkan.
 --oO0Oo--
Lagi-lagi, aku melakukannya. Hanya menatap cairan merah kental yang menetes ke bawah kasur. Namun kali ini, aku menampungnya dalam sebuah wadah yang kusiapkan. Setelah selesai, aku kembali meletakkan 6 tangkai Lily putih di tengah genangan darah. Dan aku tersenyum, meninggalkan kamar ini.
--oO0Oo--
Kugoreskan kuasku ke atas sebuah kanvas yang berisi lukisan yang belum selesai. Aku hanya kekurangan banyak warna merah. Tapi, aku tak suka menggunakan cat berwarna merah. Aku lebih suka menggunakan darah sebagai pengganti cat. Lebih indah dan...
Lebih nyata…
--oO0Oo--
Hari ini, hari terakhirku…
Targetku yang terakhir. Target ke-13.
 Kau ingin tahu, alasanku melakukannya kepada 13 orang itu? Akan kuceritakan…
Flashback…
Tampak seorang anak kecil menangis di pojok ruangan. Menatap dengan raut ketakutan yang sangat jelas. Beberapa orang tampak berusaha melakukan sesuatu kepada anggota keluarganya.
Percikan darah mulai terlihat dari tempat orang tuanya disekap. Beberapa orang mendatangi sang kakak yang juga menunjukkan wajah ketakutannya. Sang kakak tampak mengatakan beberapa hal kepada si pembunuh sebelum dibunuh.
Setelah membunuh 3 orang anggota keluarganya, si pembunuh segera pergi meninggalkan kediaman keluarga itu. Anak kecil itu segera mendatangi mayat keluarganya. Mencoba membangunkan ayah, ibu, dan kakaknya.
Tak ada jawaban, sang adik menangis keras. Menangis, tanpa ada yang menenangkan. Tanpa ada yang menghibur. Sendirian.
End of Flashback…
Itulah alasanku berusaha membunuh mereka.
 Mereka yang telah menghancurkan keluargaku. Mereka yang telah merusak hidupku.
Bukankah ditinggal orang yang disayangi rasanya sangat menyakitkan?
Hmm… Lebih baik aku segera melakukan hal ‘itu’.
--oO0Oo--
Berdiri di hadapan orang yang telah membunuh keluargaku, membuatku harus kembali mengingat kenangan pahit itu.
Aku menyiapkan pisau di tanganku. Menatap tajam orang di hadapanku. Aku tidak peduli orang ini akan mengingat kejadian itu atau tidak.
Aku mendekati orang itu. Menatap sinis wajah ketakutannya. Huh… apa mereka pernah memikirkan rasanya kematian?
CRASH…
Aku menggores lengan orang ini. Sakitkah? Hal inilah yang dirasakan keluargaku. Perih? Kalian melakukan lebih dari ini.
CRASH…
Aku menebas kaki orang ini. Hmm… inilah yang kubenci dari kalian. Hanya bisa menangis menyesali semuanya.
CRASH…
Sama seperti yang lain. Kalian hanya bisa meminta maaf. Aku tak sudi memaafkan kalian. Kalian pikir dengan meminta maaf keluargaku akan kembali utuh? Jawabannya, TIDAK!
CRASH…
Ini yang kusukai, mendengar tangisan dan rintihan kalian. Hal ini membuatku lebih bersemangat. Menangislah! Merintihlah! Haha… Semakin lama terasa semakin menyenangkan.
CRASH…
Memohonlah! Aku tak akan melepaskan kalian. Darah yang terus mengalir, membuatku merasa cukup puas. Inilah balasan yang setimpal untuk apa yang kalian lakukan.
CRASH…
Bersamaan dengan hembusan nafas terakhir orang ini, aku kembali menampung darah. Menyimpannya, dan meletakkan 13 tangkai Lily Putih. Meletakkan sebilah pisau tanpa sidik jari di samping bunga. Pertanda dendamku telah terbalaskan. 
--oO0Oo--
Kugores kuas yang terlah berlumur darah ke atas lukisan. Sedikit lagi, lukisan itu akan selesai. Untuk yang terakhir, aku menggores lenganku dengan cutter dan darah mulai mengalir. Aku mengambil sedikit darahku dan menggoreskannya di atas kanvas.
Hmm… dengan selesainya lukisan ini, menandakan bahwa tugasku sudah selesai. Aku memajang lukisan itu di dinding. Memandang dengan tatapan sendu. Bulir air mata mulai melesak keluar. Rasanya dadaku sesak. Aku benci mengingat kenangan itu. Terlalu menyakitkan…
Aku pergi meninggalkan lukisan yang berisi kenangan pahit itu.
--oO0Oo--
Aku kembali ke ruangan ini. Menggenggam seutas tali yang cukup panjang.
Aku mulai mengalungkan tali yang telah kusiapkan sebelumnya ke leherku. Kau tentu tahu apa yang akan kulakukan. Bunuh diri dengan cara gantung diri.  Aku menggenggam setangkai Lily putih yang telah layu. Bulir air mata membasahi pipiku. Ya, inilah akhir dari hidupku. Hidup seorang pembunuh yang hidup di bawah bayang kebencian.
--oO0Oo--
Lebih baik begini. Terlalu menyakitkan jika harus hidup di bawah bayang-bayang kebencian dan kesakitan.
Bukankan jika aku hidup atau mati sama saja? Toh, tak ada yang menangisiku. Tak ada yang mengingatku. Dan, tak ada yang akan menganggapku ada.
Di bawah remang-remang cahaya bulan, aku sendiri. Menangisi hidup. Aku hanya bisa menyalahkan Tuhan. Inilah takdir yang menyakitkan. Mungkin beberapa orang bisa kuat menghadapinya. Tapi, aku bukanlah orang yang bisa menghadapi hidup sendirian.
Aku lebih memilih mati daripada menghadapi hidup. Bukankan aku cukup bodoh? Aku bodoh karena hanya bisa meratapi nasib. Aku bodoh karena selalu menyalahkan Tuhan.
Tapi di akhir hidupku, aku menyadari. Bahwa ini juga kesalahanku. Tak bisa merelakan orang yang kusayangi untuk pergi. Pergi, untuk selamanya.
--oO0Oo--
Kau tahu lukisan apa yang kubuat? Lukisan yang berisi gambar saat keluargaku dibunuh. Dengan darah yang tercecer. Dan diriku…
Yang hanya bisa menangisi keadaan…

Owari
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar: