Aku berdiri
disini. Terdiam. Menatap datar lantai yang tergenang cairan merah kental dan
berbau anyir ini. Meletakkan setangkai bunga lily putih, dan segera pergi dari
tempat ini.
Mungkin beberapa
dari kalian bertanya, ‘Apa yang kau lakukan?’. Maka aku akan menjawab, ‘Hanya
menghilangkan rasa bosanku.’
Hal inilah yang
kusukai. Memandang hal yang disukai sangat menyenangkan bukan? Hanya saja, aku
tak suka mengatakan kepada kalian hal apa yang kusukai.
--oO0Oo--
Tap…
Tap…
Tap…
Tampaknya hanya
aku yang berjalan di koridor ini. Aku menatap pintu sebuah kamar bernomor 13.
13, angka sial.
Malam ini, aku
akan melakukan hobiku.
Hobi yang menurutku menyenangkan.
--oO0Oo--
Lagi-lagi, aku
melakukannya. Hanya menatap cairan merah kental yang menetes ke bawah kasur. Namun
kali ini, aku menampungnya dalam sebuah wadah yang kusiapkan. Setelah selesai,
aku kembali meletakkan 6 tangkai Lily putih di tengah genangan darah. Dan aku
tersenyum, meninggalkan kamar ini.
--oO0Oo--
Kugoreskan kuasku
ke atas sebuah kanvas yang berisi lukisan yang belum selesai. Aku hanya
kekurangan banyak warna merah. Tapi, aku tak suka menggunakan cat berwarna
merah. Aku lebih suka menggunakan darah sebagai pengganti cat. Lebih indah
dan...
Lebih nyata…
--oO0Oo--
Hari ini, hari
terakhirku…
Targetku yang
terakhir. Target ke-13.
Kau ingin tahu, alasanku melakukannya kepada
13 orang itu? Akan kuceritakan…
Flashback…
Tampak seorang
anak kecil menangis di pojok ruangan. Menatap dengan raut ketakutan yang sangat
jelas. Beberapa orang tampak berusaha melakukan sesuatu kepada anggota
keluarganya.
Percikan darah
mulai terlihat dari tempat orang tuanya disekap. Beberapa orang mendatangi sang
kakak yang juga menunjukkan wajah ketakutannya. Sang kakak tampak mengatakan
beberapa hal kepada si pembunuh sebelum dibunuh.
Setelah
membunuh 3 orang anggota keluarganya, si pembunuh segera pergi meninggalkan
kediaman keluarga itu. Anak kecil itu segera mendatangi mayat keluarganya.
Mencoba membangunkan ayah, ibu, dan kakaknya.
Tak ada
jawaban, sang adik menangis keras. Menangis, tanpa ada yang menenangkan. Tanpa
ada yang menghibur. Sendirian.
End of
Flashback…
Itulah alasanku
berusaha membunuh mereka.
Mereka yang telah menghancurkan keluargaku.
Mereka yang telah merusak hidupku.
Bukankah
ditinggal orang yang disayangi rasanya sangat menyakitkan?
Hmm… Lebih baik
aku segera melakukan hal ‘itu’.
--oO0Oo--
Berdiri di
hadapan orang yang telah membunuh keluargaku, membuatku harus kembali mengingat
kenangan pahit itu.
Aku menyiapkan
pisau di tanganku. Menatap tajam orang di hadapanku. Aku tidak peduli orang ini
akan mengingat kejadian itu atau tidak.
Aku mendekati
orang itu. Menatap sinis wajah ketakutannya. Huh… apa mereka pernah memikirkan
rasanya kematian?
CRASH…
Aku menggores
lengan orang ini. Sakitkah? Hal inilah yang dirasakan keluargaku. Perih? Kalian
melakukan lebih dari ini.
CRASH…
Aku menebas kaki
orang ini. Hmm… inilah yang kubenci dari kalian. Hanya bisa menangis menyesali
semuanya.
CRASH…
Sama seperti yang
lain. Kalian hanya bisa meminta maaf. Aku tak sudi memaafkan kalian. Kalian
pikir dengan meminta maaf keluargaku akan kembali utuh? Jawabannya, TIDAK!
CRASH…
Ini yang kusukai,
mendengar tangisan dan rintihan kalian. Hal ini membuatku lebih bersemangat.
Menangislah! Merintihlah! Haha… Semakin lama terasa semakin menyenangkan.
CRASH…
Memohonlah! Aku
tak akan melepaskan kalian. Darah yang terus mengalir, membuatku merasa cukup
puas. Inilah balasan yang setimpal untuk apa yang kalian lakukan.
CRASH…
Bersamaan dengan
hembusan nafas terakhir orang ini, aku kembali menampung darah. Menyimpannya,
dan meletakkan 13 tangkai Lily Putih. Meletakkan sebilah pisau tanpa sidik jari
di samping bunga. Pertanda dendamku telah terbalaskan.
--oO0Oo--
Kugores kuas yang
terlah berlumur darah ke atas lukisan. Sedikit lagi, lukisan itu akan selesai.
Untuk yang terakhir, aku menggores lenganku dengan cutter dan darah mulai
mengalir. Aku mengambil sedikit darahku dan menggoreskannya di atas kanvas.
Hmm… dengan
selesainya lukisan ini, menandakan bahwa tugasku sudah selesai. Aku memajang
lukisan itu di dinding. Memandang dengan tatapan sendu. Bulir air mata mulai
melesak keluar. Rasanya dadaku sesak. Aku benci mengingat kenangan itu. Terlalu
menyakitkan…
Aku pergi
meninggalkan lukisan yang berisi kenangan pahit itu.
--oO0Oo--
Aku kembali ke
ruangan ini. Menggenggam seutas tali yang cukup panjang.
Aku mulai
mengalungkan tali yang telah kusiapkan sebelumnya ke leherku. Kau tentu tahu
apa yang akan kulakukan. Bunuh diri dengan cara gantung diri. Aku menggenggam setangkai Lily putih yang
telah layu. Bulir air mata membasahi pipiku. Ya, inilah akhir dari hidupku. Hidup
seorang pembunuh yang hidup di bawah bayang kebencian.
--oO0Oo--
Lebih baik
begini. Terlalu menyakitkan jika harus hidup di bawah bayang-bayang kebencian
dan kesakitan.
Bukankan jika
aku hidup atau mati sama saja? Toh, tak ada yang menangisiku. Tak ada yang
mengingatku. Dan, tak ada yang akan menganggapku ada.
Di bawah
remang-remang cahaya bulan, aku sendiri. Menangisi hidup. Aku hanya bisa menyalahkan
Tuhan. Inilah takdir yang menyakitkan. Mungkin beberapa orang bisa kuat
menghadapinya. Tapi, aku bukanlah orang yang bisa menghadapi hidup sendirian.
Aku lebih
memilih mati daripada menghadapi hidup. Bukankan aku cukup bodoh? Aku bodoh
karena hanya bisa meratapi nasib. Aku bodoh karena selalu menyalahkan Tuhan.
Tapi di akhir
hidupku, aku menyadari. Bahwa ini juga kesalahanku. Tak bisa merelakan orang
yang kusayangi untuk pergi. Pergi, untuk selamanya.
--oO0Oo--
Kau tahu lukisan
apa yang kubuat? Lukisan yang berisi gambar saat keluargaku dibunuh. Dengan
darah yang tercecer. Dan diriku…
Yang hanya bisa
menangisi keadaan…
―Owari―