Banyak
hal ingin kutuliskan, juga ingin kukatakan. Tetapi hingga detik ini tak semua
yang kuingin itu dapat kulakukan. Apa yang akhirnya kutuliskan terkadang
bukanlah cermin sepenuhnya dari apa yang terjadi padaku. Hanya beberapa keping
ingatan dari retak-retak kenangan yang jatuh di persimpangan. Dan tak mungkin
bagiku menuliskan semua yang kurasakan. Aku tak ingin telanjang di hadapan
sekian banyak pasang mata.
Memang
bagi sebagian orang hal itu menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan dan
mungkin menggairahkan. Tetapi bagi sebagian yang lain hal itu bisa menjadi
sesuatu yang menjijikkan dan atau memalukan. Lalu seperti apa yang akhirnya
tertulis, aku berharap itu bukan sesuatu yang menjijikkan walau tidak menutup
kemungkinan bahwa apa yang kutuliskan ini --sedikit-- memalukan. Tapi ketika
akhirnya aku memutuskan untuk --jujur-- mengatakan sesuatu yang sebenarnya, aku
tahu bahwa salah satu konsekuensinya adalah rasa malu. Itu lebih baik dari pada
tak punya rasa malu bukan?
Ketika
akhirnya aku memilih atau memutuskan sesuatu, tentu saja bukan aku saja yang
akhirnya menjadi obyek dari keputusan itu. Sebab aku hidup tidak sendirian.
Sesuatu yang terjadi padaku memang effect dari apa yang aku lakukan. Tetapi aku
melakukan sesuatu --entah baik entah tidak baik-- karena beberapa alasan. Salah
satu alasan itu adalah orang lain. Dan ketika sesuatu yang tidak baik kulakukan
maka sebagian orang lain kemudian menyalahkanku. Aku tidak menyalahkan mereka
ketika aku disalahkan. Tetapi tentu saja asal hal itu tidak berlebihan. Sebab
seorang penjahat pun tetap berhak mendapatkan keadilan atau pembelaan atas
kejahatan yang dilakukan. Tentu saja dalam hal ini aku bukan penjahat.
Bukan
pembelaan diri atau mencari pembenaran akan sesuatu, tetapi seringkali realitas
yang ada cenderung menempatkan pesakitan sebagai seorang yang haknya dikaburkan
kalau tidak mau dibilang dihilangkan. Ketika seseorang sakit hati atas apa yang
kulakukan maka sudah hampir pasti bahwa aku disalahkan dalam hal itu. Tetapi
seringkali pertanyaan "Mengapa kamu tega melakukan ini padaku?"
menjadi pertanyaan egois yang jawaban-jawaban dari pertanyaan itu dicari dalam
dirinya sendiri. Atau bisa jadi pertanyaan itu sekedar menjadi pertanyaan yang
jawaban-jawabannya tidak dicari dengan cara yang benar kalau tidak mau dibilang
tak pernah dicari.
Ada
lagi pertanyaan yang seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari,
"Seorang
penjahat pun punya hati nurani, apakah kamu tak punya?"
Pertanyaan
ini seringkali tak disadari oleh yang bertanya bahwa telah memposisikan
seseorang lebih jahat dari penjahat. Siapa yang lebih jahat dari penjahat?
Jawabannya tentu bukan mbahnya penjahat atau moyangnya penjahat. Sebab kalau
dijawab seperti itu, rentetan berikutnya adalah; yang membuat mbahnya penjahat
atau moyangnya penjahat adalah setan dan atau iblis. Rentetan berikutnya; siapa
yang membuat setan dan iblis? yang akhirnya menjadi jahat- tentu saja adalah
Tuhan Yang Maha Kuasa akan segala sesuatu.
Aku
tidak ingin menyalahkan Tuhan. Tentu saja Tuhan tidak salah, Dia Maha Benar.
Lepas dari jawaban-jawaban itu, pertanyaan di atas membuat orang yang diberi
pertanyaan itu menjadi tersakiti. Meski mungkin itu pantas diterima karena
telah menyakiti. Tetapi tetap saja konteks "memanusiakan manusia"
menjadi tidak melalui proses yang baik karena tanpa disadari manusia itu
sendiri yang tidak memanusiakan dirinya. Yang membuat orang dalam posisi
tertentu, bukan orang lain, tetapi orang itu sendiri. Kapasitas orang yang
bersangkutan yang membuatnya dalam posisi tertentu. Dan ketika seseorang yang
lain memposisikan orang lain secara berlebihan atau tidak pada posisinya, sudah
tentu itu menjadi tidak adil. Ah, siapa saat ini peduli tentang keadilan.
Keadilan hanya ada di tangan Tuhan. Klasik.
Apa
yang kemudian kualami dalam hidup, kuharapkan menjadi pelajaran yang penting
dan dapat dipetik hikmahnya, baik bagiku atau bagi orang lain. Sebab salah satu
bentuk kasih sayang Tuhan adalah mengingatkan umat yang Dia sayang dengan
cara-Nya. Aku tidak bisa memilih cara yang kuinginkan dalam ini. Yang harus
dilakukan adalah menerima peringatan itu dan berusaha untuk menjadi lebih baik
agar mendapatkan sesuatu yang lebih baik juga tentunya. Aku yakin Tuhan sayang
padaku. Ketika kepahitan hidup menjatuhkanku, kepahitan itu pula yang akhirnya
membangunkanku kembali. Dari kedalaman sajadah kulihat banyak orang sepertiku.
Begitu banyak, dan aku menjadi berani untuk menyusun kata-kata. membacanya di
jendela menghadap rembulan dan bintang-bintang, tanpa ragu dan bimbang. Dan
saat fajar menjelang, aku akan tahu mengapa aku hidup kembali.